DPR Sarankan Pemerintah Bentuk Crisis Center Vaksin Palsu

Ketua DPR RI Ade Komarudin
Sumber :

VIVA.co.id – Ketua DPR RI Ade Komarudin, menyarankan pemerintah membentuk pusat krisis atau crisis center dalam mengatasi permasalahan pemberian vaksin palsu. Pusat krisis ini tidak hanya dibentuk di tingkat nasional, tapi juga didirikan di rumah sakit-rumah sakit yang sempat menggunakan vaksin palsu.

img_title DPR Setujui Pagu Indikatif Kemensos 2021 Sebesar Rp62,024 Triliun

Salah satu tugas dari pusat krisis ini, ujar Ade, adalah memastikan anak-anak dan balita yang sebelumnya menggunakan vaksin palsu mendapatkan vaksinasi ulang. Namun, kondisi dihadapkan oleh identifikasi data yang harus dihimpun. Karena itu, perlu ada tim di pusat krisis itu yang melakukan verifikasi data terhadap korban-korban vaksin palsu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Terlebih, peredaran vaksin palsu ini diduga kuat sudah terjadi sejak 2003 silam.

img_title Demokrat: Jika RUU HIP Bertujuan Mulia, Enggak Mungkin Rakyat Bereaksi

“Jadi untuk memverifikasi data-data korban itu. Kalau data sudah terverifikasi, maka vaksin ulang itu bisa berhasil. Jadi kekuatan data juga penting,” kata Akom, sapaan akrab Ade, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu 20 Juli 2016.

Tidak hanya itu, pusat krisis, terutama di tingkat nasional, diharapkan dapat melakukan pencegahan dan pengawasan terhadap peredaran obat dan vaksin palsu. Selain itu, dengan adanya pusat krisis ini, aparat keamanan dapat menelusuri dan menangkap pihak-pihak yang terkait penyebaran dan pembuatan vaksin palsu tersebut.  

img_title Tidak Virtual DPR Rapat dengan Menhan Prabowo dan Panglima TNI

“Jika tidak dibuat crisis center, maka akan simpang siur permasalahan vaksin palsu ini. Jadi Menkes harus membuat crisis center. Akar masalahnya itu apa, itu juga jadi tugas crisis center,” ucap Akom.

Pembentukan pusat krisis ini, ujar Akom, tidak hanya dilakukan di tingkat nasional, yang dipimpin langsung oleh menteri. Tapi juga di RS yang sempat menggunakan vaksin palsu.

“Jadi jelas siapa yang bertanggung jawab mengatasi masalah ini di rumah sakit tersebut, juga di pemerintah,” kata politisi Partai Golkar ini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara untuk pembentukan Panitia Kerja (Panja) Pengawasan Obat dan Vaksin Palsu, Ade mengungkapkan, saat ini Komisi IX DPR RI tengah menyiapkan rencana pembentukan Panja tersebut. Bahkan, jika dianggap perlu, DPR RI bakal membentuk tim pengawas dalam upaya menyelesaikan kasus vaksin palsu ini.

Tim pengawas itu, lanjut Akom, berasal dari komisi-komisi yang terkait, seperti Komisi III terkait penegakan hukum dan Komisi VI yang terkait BUMN. Keterlibatan Komisi VI dianggap penting lantaran Bio Farma selaku produsen vaksin dan obat tersebut merupakan BUMN.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut