Ini Cara Agar Tak Jadi Korban Pencurian Data Pribadi
- Halomoney.
VIVA.co.id –  Konsumen di Asia Tenggara ternyata masih banyak lebih memilih metode pembayaran dengan menggunakan uang tunai dibandingkan dengan transaksi pembayaran elektronik. Itu dikarenakan mereka menganggap bahwa uang tunai itu lebih aman.
Konsumen juga masih sangat khawatir terhadap pencurian identitas dari transaksi pembayaran elektronik. Padahal sebenarnya kejadian tersebut relatif jarang terjadi dan dapat dicegah dengan mudah.
Bagaimanapun, selain membuat tidak nyaman dan tidak aman, uang tunai juga dapat berisiko terhadap kesehatan. Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2002 oleh Southern Medical Journal mengungkapkan, bahwa uang kertas dolar Amerika Serikat merupakan tempat berkembang biak bagi patogen, seperti bakteri Klebsiella pneumonia yang dapat menyebabkan pneumonia.
MasterCard Safety and Security Index, seperti dikutip dari siaran persnya Selasa 15 November 2016, mengungkapkan bahwa kekhawatiran konsumen terhadap pencurian identitas melebihi pengalaman mereka yang sebenarnya. Data menunjukkan bahwa dari 35 persen konsumen yang merasa khawatir menjadi korban pencurian identitas ternyata hanya enam persen dari mereka yang benar-benar mengalaminya.
Lantas, dari manakah datangnya ketakutan ini? 43 persen responden menyatakan bahwa mereka sering melihat dan terpengaruh berita-berita di media yang membahas mengenai pencurian identitas.
Untuk meredakan kekhawatiran masyarakat, Mastercard telah mengumpulkan lima kesalahpahaman umum mengenai pencurian identitas, serta bagaimana cara untuk meminimalisir kemungkinan pencurian identitas.
1. Pencurian identitas terjadi sangat acak
Kenyataannya pencurian identitas sering kali dapat dicegah dengan mudah secara logika, dan melalui pemahaman yang baik mengenai kebiasaan belanja yang aman.
Tips: Pilihlah kata sandi yang kuat untuk akun media sosial dan belanja online Anda, dan jangan pernah memberikan informasi tersebut kepada siapapun.
2. Pencurian identitas adalah kesalahan bankÂ
Kenyataannya sebagian besar dari kasus pencurian identitas dimulai dari kegiatan offline, dan bank bukanlah target utama dari para pencuri. Infomasi pribadi bisa diambil dari tempat yang tidak mendapat perhatian penuh, seperti dompet yang hilang atau dicuri, atau dari sebuah diari pribadi.
Tips: Segera laporkan apabila Anda kehilangan dompet atau alat pembayaran lainnya kepada bank dan pihak berwajib setempat. Saat membuat laporan, berikan sebanyak mungkin informasi yang relevan, karena hal tersebut akan membantu bank untuk melacak dan menghentikan semua kegiatan penipuan.Â