Inilah Catatan DPR Terkait Persoalan Kekinian di 2017
VIVA.co.id – Pada tahun 2017 ini Indonesia masih dihadapkan dengan situasi lingkungan strategis yang belum stabil penuh yang disebabkan antara lain oleh peralihan model ekonomi Cina dari produksi ke konsumsi, ketidakpastian kebijakan the fed, stagnasi harga-harga komoditas, situasi politik global yang pasang-surut, stagnasi daya beli dalam negeri dan lainnya. Dalam situasi seperti itu, bangsa ini akan terus diuji ketangguhannya.
Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan berharap di tahun 2017, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika tetap menjadi pedoman dan dasar-dasar yang kuat dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Hanya saja, ke depan, seluruhnya tidak sebatas konsepsi yang beku, tapi harus aktif dan terlaksana secara lebih nyata," ujarnya di Komplek DPR RI, Selasa 3 Januari 2017.
Selain itu, Heri juga berharap perekonomian domestik membaik. Hingga saat ini, pertumbuhan domestik masih diwarnai tren perlambatan dan kualitas pertumbuhan yang belum membaik.
"Walaupun sudah berada pada angka di atas 5 persen, target pertumbuhan pada APBNP 2016 sebesar 5,2 persen diprediksi tidak tercapai pada akhir 2016. Pertumbuhan ekonomi harus berkualitas," ucapnya.
Menurut Heri, ada beberapa hal yang mesti jadi perhatian serius. Pertama, pertumbuhan yang ada harus mampu menyerap tenaga kerja yang lebih banyak.
"Pada 2016, estimasi pertumbuhan 1 persen hanya mampu menyerap 110 ribu tenaga kerja. (Bappenas, 2016). Angka tersebut menurun dibanding 5 tahun sebelumnya dimana 1 persen pertumbuhan ekonomi mampu menyerap 225 ribu tenaga kerja," katanya.
Kedua, tambah Heri, pertumbuhan yang ada harus mampu mengentaskan problem kemiskinan. Tahun 2016 ini tingkat kedalaman kemiskinan memburuk menjadi 1,94.
"Ketiga, pertumbuhan yang ada harus merata. Meski pada 2016 indeks gini dapat diturunkan di angka 0,39, tapi perhitungan itu tidak menggambarkan pemerataan yang lebih nyata karena hanya diukir dari seberapa besar pengeluaran dan bukan dari seberapa besar pendapatan. Hingga saat ini, pertumbuhan yang ada hanya dinikmati tidak lebih dari 20 persen orang, sedangkan 80 persen yang lain sangat rentan untuk tertinggal," kata Politisi Gerindra ini.
Selain itu, dijelaskan Heri problem ketenagakerjaan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diseriusi.