Cara Kominfo Taklukkan Google Sampai Facebook

Beragam media sosial.
Sumber :
  • www.pixabay.com/LogoStudioHamburg

Maraton panggil Pemain OTT

img_title Perlu Aturan Khusus untuk Pajaki Google Cs

Kominfo telah beberapa kali memanggil para pemain Over The Top atau OTT ke kantor Kominfo. Semuanya yang dipanggil sepakat untuk menapis konten bermuatan negatif.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Oleh karena itu, Rudiantara dan Direktur Jenderal Aplikasi  dan Informatika (Aptika) Samuel Pangerapan, pada 1 Agustus hingga 5 Agustus 2017 secara maraton menemui sejumlah penyedia layanan media sosial.

img_title Era Digital, Musuh Operator Adalah Google Cs

Dalam pertemuan dengan operator aplikasi media sosial tersebut, Rudiantara meminta komitmen penyedia layanan media sosial meningkatkan Service Level Agreement (SLA) dalam menangani konten negatif seperti radikalisme, terorisme, pornografi, hoax, ujaran kebencian (hate speech), SARA dan lain-lain.

"Ini untuk pelayanan masyarakat. Sebab, masyarakat ingin mendapat kepastian dalam penanganan konten negatif di internet dan media sosial," ujar Rudiantara melalui keterangan tertulisnya, Kamis 10 Agustus 2017. 

img_title Tarif Pajak untuk Perusahaan OTT 25 Persen

Satu per satu, penyedia layanan media sosial ini ditagih komitmennya oleh Menkominfo untuk mengendalikan konten negatif yang bisa memicu konflik di suatu negara. Dalam pertemuan antara Kominfo dan CEO Telegram Pavel Durov di Jakarta pada 1 Agustus 2017, menghasilkan kesepakatan antara lain agar menghentikan propaganda terorisme yang dilakukan di saluran publik Telegram.

Selanjutnya, Telegram diminta menyediakan jalur khusus yang langsung tertuju pada Menkominfo dan tim dalam hal pemantauan konten terorisme. Lalu, Telegram diminta melibatkan anggota tim pemantauan yang mampu berbahasa Indonesia. Ini disebabkan agar Telegram dapat mempercepat penutupan saluran yang terindikasi membawa propaganda terorisme di bawah 24 jam.

Hari berikutnya, Kominfo bertemu dengan perwakilan Facebook Asia Pacific. Pertemuan ini menghasilkan keputusan agar Facebook menyediakan fasilitas geo-blocking. 

Facebook juga menyebut, mereka segera membentuk Tim Penanganan Konten di Indonesia untuk mempercepat proses respons atas permintaan publik, mengaplikasikan machine learning untuk membantu menurunkan jumlah spam, dan mengurangi postingan yang merujuk pada halaman web berkualitas rendah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hasil positif juga terjadi saat Kominfo bertemu wakil Google Asia Pacific, Ann Lavin, pada 4 Agustus 2017. Google bersedia melatih tim trusted flagger, sehingga publik dapat lebih mengerti tentang ketentuan-ketentuan yang ada di Google.

Kominfo menekankan pentingnya pelibatan masyarakat sipil dalam penilaian konten sesuai kearifan lokal. Google juga terus mengkaji terhadap ‘flag-flag’ yang dibuat secara efisien.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut