Berebut Suara Gen Z
- Freepik.com
Survei ini mewawancarai lebih dari 6.000 orang berusia 16 hingga 26 tahun dari Jerman, Prancis, Spanyol, Italia, Yunani, Polandia, dan Inggris.
Partisipasi pemilih pada pemilu Uni Eropa terakhir juga menunjukkan menurunnya minat untuk ikut serta dalam proses demokrasi UE. Pada 2019, 42 persen kaum muda berusia 15 hingga 24 tahun memilih.
Menurut kantor statistik Eurostat, hanya 36 persen hadir di bilik suara pada 2024, menurun 6 poin persentase. Jumlah pemilih muda pada pemilu terbaru juga lebih rendah dibanding rata-rata partisipasi sebesar 51 persen.
Merayu gen Z
Mendukung kaum muda termasuk prioritas masa jabatan Komisi UE saat ini yang berlangsung hingga 2029.
Sejak 2024, lebih dari 35 pertemuan, seperti yang membahas cyberbullying, telah diselenggarakan.
Dinamakan "Dialog Kebijakan Pemuda," hasilnya telah dipublikasikan dan dibahas secara online. Hasil ini akan menjadi bagian dari pembentukan kebijakan baru yang memengaruhi kaum muda, menurut situs web Komisi UE.
Inisiatif lain termasuk "Dewan Penasihat Pemuda," yang terdiri dari perwakilan pemuda dari seluruh UE, atau "Youth Check," yang menilai legislasi dari dampaknya terhadap kaum muda Uni Eropa.
Sementara itu, "European Youth Event" mempertemukan ribuan pemuda setiap dua tahun. Komisi UE juga menjangkau kaum muda Eropa melalui media sosial, misalnya membagikan informasi seperti program pertukaran Erasmus atau undian tiket kereta gratis.
Namun, di tengah skeptisisme dan polarisasi yang meluas, pertanyaannya tetap: apakah UE mampu mempertahankan dukungan Gen Z?
Hernandez-Diez menyoroti masalah yang berlaku di seluruh masyarakat dan kelompok usia:
“Itu masalah di setiap level demokrasi, orang yang tidak percaya pada demokrasi tentu tidak berpartisipasi di dalamnya. Tapi, menciptakan pengalaman demokrasi yang positif bagi kaum muda sangat penting. Bagaimana pun, kelangsungan demokrasi akan bergantung pada komitmen mereka terhadapnya,” ungkap dia.