Pasokan Menipis, Eropa Siaga Hadapi Krisis Energi

Ilustrasi Bendera Uni Eropa
Sumber :

Jakarta, VIVA – Eropa bersiap menghadapi krisis energi berkepanjangan seiring pasokan minyak dan gas yang semakin ketat akibat konflik geopolitik yang belum mereda. Uni Eropa memperingatkan, kondisi ini akan menekan harga energi tetap tinggi dalam waktu lama.

img_title Alasan Uni Eropa Mulai Tak Nyaman Simpan Emas di AS

Komisioner Energi Uni Eropa, Dan Jørgensen, menegaskan masyarakat Eropa harus bersiap menghadapi situasi sulit. Bahkan, krisis diprediksi berlangsung dalam waktu cukup lama.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Ini akan menjadi krisis yang panjang... harga energi akan lebih tinggi untuk waktu yang sangat lama,” ujar Jørgensen dikutip dari Financial Times pasa Jumat, 3 April 2026.

img_title Uni Eropa Resmi Wajibkan Laporan Serangan Siber dalam 24 Jam

Ia juga mengingatkan bahwa situasi bahkan berpotensi memburuk dalam waktu dekay mempertimbangman sejumlah komoditas energi penting. Meski krisis belum sepenuhnya mencapai puncaknya, Jørgensen mengakui bahwa tingkat kekhawatiran kini jauh lebih serius dibandingkan sebelumnya.

“Dengan beberapa produk yang krusial, situasinya akan menjadi lebih buruk dalam beberapa minggu ke depan,” lanjutnya. 

img_title Pertamina Patra Niaga Perkuat Pasokan BBM ke SPBU di Sulawesi Selatan

Ilustrasi minyak mentah.

Photo :
  • CNBC Internasional

Dalam pertemuan informal para menteri energi Uni Eropa, Jørgensen juga menekankan bahwa harga minyak dan gas tidak akan kembali ke level sebelum konflik. Bahkan jika ketegangan di Timur Tengah berakhir hari ini.

Secara finansial, dampaknya sudah terasa signifikan. Ia menyebut, konflik selama 30 hari terakhir telah menambah beban impor energi Uni Eropa hingga US$16,2 miliar. Dari sisi pasokan, tekanan paling besar saat ini terjadi pada bahan bakar jet dan diesel. Eropa diketahui sangat bergantung pada pasokan kedua komoditas tersebut dari Timur Tengah.

Gangguan distribusi membuat harga melonjak tajam, terutama bahan bakar jet. Sementara itu, harga diesel dilaporkan menembus US$200 per barel pekan ini imbas perubahan rute pengiriman global.

Sejumlah kapal tanker yang semula menuju Eropa justru beralih ke Afrika. Sementara satu kapal lain dari Inggris terpantau mengarah ke Australia yang juga mengalami krisis bahan bakar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam Mmnghadapi situasi ini, Uni Eropa mulai mempertimbangkan berbagai langkah. Salah satunya kemungkinan intervensi regulasi untuk menjaga stabilitas pasokan.

“Kami melihat semua kemungkinan, dan semakin serius situasinya, tentu kami juga harus mempertimbangkan langkah-langkah legislatif,” beber Jørgensen.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut