Eks Mendiknas Ingatkan Pemerintah Tak Buat UN Program Sesaat

Mantan Menteri Pendidikan Nasional, Mohammad Nuh, dalam peresmian Gedung Baiturrohmah di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya atau Unusa di Surabaya, Jawa Timur, pada Rabu, 2 Mei 2018.
Sumber :
  • VIVA/Nur Faishal

Masalahnya, kata Nuh, selama ini rezim pemerintah berganti setiap lima-sepuluh tahun. Bahkan, “Setiap pemerintahan punya selera masing-masing."

img_title Prabowo Target Tutup 800 BUMN Merugi, Klaim Bisa Hemat Triliunan

Esensi program pendidikan hanya dua yang utama, yakni akses dan kualitas. Soal akses, bukan hanya wajib belajar dua belas tahun, tapi bagaimana generasi bangsa bisa mencecap pendidikan sampai perguruan tinggi. "Dulu yang semangatnya sekolah gratis, saiki yo opo ceritane (sekarang bagaimana kabarnya). Ini komitmen dan enggak ada yang mengendalikan lagi," ujarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kedua adalah kualitas dengan rumus utama ialah guru, kurikulum, dan fasilitas. Tiga hal itulah yang bisa menentukan kualitas pendidikan. "Selamat ber-Hardiknas," kata Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya itu.

img_title Seloroh Prabowo: Kalau Belajar Politik Harus Belajar dari NU!

Komputer tablet mahasiswa

Nuh, selepas tak menjabat menteri pendidikan, sibuk sebagai Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya atau Yarsis. Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya atau Unusa salah satu yang diurus yayasan itu.

img_title Blak-blakan! Prabowo Ungkap Biang Kerok Rupiah Melemah

Eks Mendiknas Ingatkan Pemerintah Tak Jadikan UN Program Sesaat

Unusa terbilang universitas baru, dibuka pada 2013. Tetapi embrionya sudah lama, yakni berupa Sekolah Perawat Kesehatan atau SPK Yarsis pada 1979. Pada 1985, berdiri Akademi Keperawatan, kemudian SPK berubah menjasi Akademi Kebidanan pada 1997. Dua institusi itu lalu bergabung jadi Stikes Yarsis pada 2006 dan lambat laun jadi Unusa. 

Kendati baru, Unusa tak butuh waktu lama merangkak. Berjalan sejenak ia lantas berlari. Infrastruktur dan fasilitas pelayanan akademik coba dikebut. Keterbatasan lahan dan gedung tak membikin ciut semangat. Nuh mengatakan, keterbatasan secara fisik bisa dikompensasi dengan sesuatu yang ia sebut virtual space.

"Kita ingin menutupi keterbatasan space fisik dengan mengimplementasikan space virtual," kata Nuh.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Nuh lantas memberi salah satu contoh implementasi dari perluasan virtual space, yakni penggunaan komputer tablet atau smartphone secara gratis bagi mahasiswa baru untuk kegiatan kuliah mereka. Program dimulai tahun 2017 meski belum semua mahasiswa merasakannya karena keterbatasan perangkat. “Nanti tahun ajaran baru, semua mahasiswa baru kita beri tab (komputer tablet), dan itu free," katanya. 

Tab itu dirancang dan dikendalikan dengan perangkat keamanan tertentu oleh pihak Kampus sehingga tidak bisa disalahgunakan oleh mahasiswa, kendati dibawa ke luar kampus. Tablet canggih itu hanya bisa diaplikasikan untuk keperluan studi. "Tab ini antikenakalan," ujar Nuh.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut