Religius tapi Modern, Begini Konsep Baru Kota Pasuruan
- Dok. Istimewa
Pasuruan, VIVA - Pemerintah Kota (Pemkot) Pasuruan memperkenalkan konsep baru kotanya yakni “Religius Modern”. Branding ini datang dari pembacaan yang cermat atas tanggapan dari para warganya.
Branding kota ini lahir dari hasil riset terpadu dari beberapa metode dari lembaga profesional LOGITERA. Hasil riset tersebut diterjemahkan dalam satu visual kota yang konsisten.
Di benak warga, Pasuruan pertama-tama hadir sebagai kota santri. Angka survei memperlihatkan, kekuatan memori kolektif itu disebutkan oleh 73,5 persen responden. Mereka menyebutkan keunikan Pasuruan terletak pada nuansa religiusnya.
Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo menegaskan temuan riset untuk branding kota ini penting guna memperkuat identitas diri dari wilayah yang dipimpinnya.
“Religius bukan berarti statis, modern bukan berarti tercerabut dari akar. Pasuruan menunjukkan keduanya menyatu dalam kehidupan warganya,” kata Adi, Sabtu 7 Februari 2026.
Salah satu metodenya adalah survei persepsi dari warga. Menurut warga, Pasuruan dinilai sebagai kota yang dikenal sebagai kota santri. Angka survei memperlihatkan, kekuatan memori kolektif itu disebutkan oleh 73,5 persen responden.
Sebanyak 58,4 persen memilih kata religius, santri, dan berkah sebagai frasa paling tepat menggambarkan kota. Sementara itu sebanyak 41,8 persen langsung mengingat santri, KH Abdul Hamid, serta Payung Madinah di alun-alun melekat dalam nama Pasuruan.
Namun riset yang sama juga menunjukkan sisi lain Pasuruan, yakni kota yang hidup. Warga menyebut alun-alun dan tugu kota sebagai ruang interaksi yang aktif. Pesisir, nelayan, dan pelabuhan sebagai denyut ekonomi sehari-hari.
Serta bipang atau jipang sebagai warisan kuliner yang terus diproduksi dan diperdagangkan. Pasuruan juga dikenali sebagai kota yang majemuk, tempat beragam latar sosial berdampingan. Dari sinilah Pasuruan juga disebut “Modern” yang dipersepsikan sebagai ruang publik yang dinamis, ekonomi rakyat yang berjalan, dan masyarakat yang terbuka.
Untuk itu, menurut Adi Wibowo, branding kota ini diposisikan bukan sekadar logo baru, melainkan pijakan strategis untuk memperkuat pariwisata, ekonomi kreatif, komunikasi publik, dan promosi investasi bagi kotanya.
Sementara itu peneliti LOGITERA, Adi F. Nugrotomo mengatakan, persepsi warga dan akar sejarah juga dilibatkan sebagai bagian tak terpisahkan dalam merumuskan branding untuk Kota Pasuruan ini.