Perang Iran-Israel Picu Perlambatan Ekonomi Global, Ekonom Ingatkan Potensi Defisit Fiskal RI

Serangan Israel di sebuah gedung kantor televisi berita Iran, Senin, 16/6
Sumber :
  • AP Photo

Jakarta, VIVA – Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin mengatakan, ekskalasi perang Iran-Israel yang terus meningkat juga akan meningkatkan risiko global, harga energi, dan inflasi di berbagai negara. Hal ini menurutnya akan membuat para investor akan wait and see demi melihat perkembangan yang ada, seiring perdagangan dan pertumbuhan ekonomi dunia yang juga akan melambat.

Gus Yahya Minta Maaf Undang Akademisi Pro-Israel Peter Berkowitz Jadi Narasumber

Terlebih, strategi Iran yang rencananya bakal menutup Selat Hormuz, diperkirakan juga akan berdampak pada melonjaknya harga komoditas terutama energi, dan membuat permintaan komoditas lain berpotensi turun akibat perlambatan ekonomi. 

"Dalam konteks ini, fiskal kita akan makin defisit, capital inflow melemah, dan Rupiah berisiko makin tertekan. Apalagi, refinancing utang makin tidak mudah, membuat situasi makin rumit," kata Wijayanto saat dihubungi VIVA, Senin, 23 Juni 2025.

Jurnalis Valerie Zink Curhat Mundur dari Reuters, Tuding Medianya Propagandis Israel

Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Photo :
  • VIVA.co.id/M Ali Wafa

Mengenai dampak perang Iran-Israel terhadap harga-harga kebutuhan pokok, Wijayanto menjelaskan bahwa apabila barang kebutuhan pokok itu diproduksi di dalam negeri, maka perubahan harga hanya akan terpengaruh secara moderat karena sebagian komponen produksinya adalah produk impor.

18.489 Pelajar dan Ratusan Guru Palestina Tewas Akibat Serangan Israel

"Tetapi jika komoditas ini adalah produk impor, maka sudah tentu harganya akan ikut terdongkrak secara signifikan," ujar Wijayanto.

Karenanya, ia menyarankan agar pemerintah perlu memastikan kembali program-program kerjanya bisa berjalan secara efektif, sesuai kebutuhan, dan hemat APBN. Pemerintah juga didorong untuk mengorientasikan program-program yang menciptakan lapangan kerja dan daya beli, serta lebih mendisiplinkan manajemen utang.

"Keamanan energi perlu dikedepankan dengan para produsen minyak bumi, melalui kontrak jangka panjang. Pada saat yang bersamaan, transisi energi menuju EBT perlu dipercepat, mengingat dinamika global akan terus berulang," ujarnya.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian

Di Hadapan Presiden Prabowo, Mendagri Tito Sampaikan Tiga Langkah Penting Daerah Perkuat Kapasitas Fiskal

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menyampaikan tiga langkah penting bagi daerah dalam memperkuat kapasitas fiskal.

img_title
VIVA.co.id
28 Agustus 2025