Donald Trump Diskakmat Xi Jinping

Perang Dagang China dan Amerika Serikat (AS).
Sumber :
  • Data Driven Investor

Jakarta, VIVA – Kementerian Perdagangan (Kemendag) China menerbitkan sebuah dokumen yang diberi nama "Pengumuman No 62 Tahun 2025". Namun, ini bukan sekadar surat birokrasi biasa. Surat ini telah mengguncang gencatan tarif yang rapuh dengan Amerika Serikat (AS).

img_title Hampir 1 dari 5 Mobil Baru di Indonesia Berasal dari Merek China

Pengumuman tersebut merinci pembatasan baru yang menyeluruh pada ekspor logam tanah jarang (rare Earth), dalam suatu langkah yang memperketat cengkeraman Beijing pada pasokan global mineral penting tersebut - dan mengingatkan Donald Trump seberapa besar pengaruh yang dimiliki China dalam perang dagang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

China hampir memonopoli pemrosesan logam tanah jarang, yang krusial bagi produksi berbagai hal, mulai dari telepon pintar hingga jet tempur.

img_title Iran Ajukan 7 Syarat ke AS untuk Buka Selat Hormuz

Berdasarkan peraturan baru yang dikeluarkan Kemendag bahwa perusahaan asing kini memerlukan persetujuan pemerintah China untuk mengekspor produk yang mengandung sejumlah kecil logam tanah jarang dan harus menyatakan tujuan penggunaannya.

Sebagai tanggapan, Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan 100 persen pada barang-barang China dan menerapkan kontrol ekspor pada perangkat lunak utama.

img_title Trump Sebut Perang Iran Segera Berakhir, Ramal Harga Minyak Dunia Bakal Anjlok

"Inilah pertarungan China melawan dunia. Mereka telah mengarahkan bazoka ke rantai pasokan dan basis industri di seluruh dunia bebas, dan kita tidak akan membiarkannya," kata Menteri Keuangan (Menkeu) AS Scott Bessent, seperti dikutip dari situs BBC, Jumat, 24 Oktober 2025.

China mengatakan AS telah "sengaja memprovokasi kesalahpahaman dan kepanikan yang tidak perlu" atas pembatasan logam tanah jarang. "Asalkan permohonan izin ekspor memenuhi persyaratan dan ditujukan untuk penggunaan sipil, permohonan tersebut akan disetujui," tambah juru bicara Kemendag.

Logam tanah jarang sangat penting untuk produksi berbagai macam teknologi seperti panel surya, mobil listrik, dan peralatan militer. Misalnya, satu jet tempur F-35 diperkirakan membutuhkan lebih dari 400 kg (881,8 lb) tanah jarang untuk lapisan siluman, motor, radar, dan komponen lainnya.

Ekspor rare Earth China juga mencakup sekitar 70 persen pasokan logam dunia yang digunakan untuk magnet di motor kendaraan listrik, kata Natasha Jha Bhaskar dari firma penasihat Newland Global Group.

Beijing telah bekerja keras untuk mendapatkan dominasinya atas kapasitas pemrosesan tanah jarang global, kata peneliti mineral penting Marina Zhang dari Universitas Teknologi Sydney.

Mereka telah mengembangkan kumpulan bakat yang luas di bidangnya, sementara jaringan penelitian dan pengembangannya bertahun-tahun lebih maju daripada pesaingnya.

Sementara AS dan negara lain berinvestasi besar-besaran untuk mengembangkan alternatif bagi China untuk pasokan logam tanah jarang, mereka masih jauh dari mencapai tujuan itu.

"Sekali pun AS dan semua sekutunya menjadikan pengolahan logam tanah jarang sebagai proyek nasional, saya rasa perlu waktu setidaknya lima tahun untuk mengejar ketertinggalan dari China," tegas dia.

Angka resmi terbaru dari China menunjukkan bahwa ekspor mineral penting turun pada September 2025 lebih dari 30 persen dibandingkan tahun lalu. Namun, analis mengatakan ekonomi China tidak mungkin terganggu oleh penurunan ekspor.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Logam tanah jarang hanya merupakan bagian yang sangat kecil dari ekonomi China yang mencapai US$18,7 triliun per tahun, kata Prof Sophia Kalantzakos dari Universitas New York. Beberapa perkiraan menyebutkan nilai ekspor kurang dari 0,1 persen dari produk domestik bruto (PDB) tahunan China.

Meskipun nilai ekonomi logam tanah jarang bagi China mungkin kecil, namun, nilai strategisnya sangat besar, karena hal itu memberi Beijing lebih banyak pengaruh dalam perundingan dengan AS. "Apa yang dilakukan China baru-baru ini adalah "mempersiapkan diri" menjelang perundingan dagang dengan AS," ungkap Kalantzakos.

Para kepala negara anggota BRICS dalam KTT ke-18 BRICS di New Delhi

China Siap Ambil Alih Keketuaan BRICS pada 2027

Presiden China Xi Jinping mengatakan China siap untuk mengambil alih keketuaan organisasi BRICS serta membuat agenda yang mendukung pembangunan negara Selatan Global

img_title
VIVA.co.id
13 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut