Ekonomi Tidak Baik-baik Saja di 2026

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.
Sumber :
  • Dok. Istimewa

Jakarta, VIVA – Dua ribu dua lima menjadi tahun yang bergejolak bagi ekonomi global. Ketegangan dagang, pertumbuhan yang tidak merata meski masih moderat, serta kekhawatiran terhadap inflasi dan lonjakan utang menjadi ciri utama perekonomian dunia sepanjang tahun ini.

img_title Purbaya Jamin Dana Buat Pembayaran Utang Whoosh Tersedia, Simak Penjelasannya

Namun, masalah-masalah tersebut diperkirakan belum akan mereda pada 2026. Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global melambat dari 3,2 persen pada 2025 menjadi 2,9 persen di tahun depan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Lembaga yang beranggotakan 38 negara ekonomi maju itu menilai ekonomi dunia cukup tangguh, tetapi tetap rapuh.

img_title 5 Gunung Api Aktif Erupsi Berdekatan, Purbaya Pastikan Kondisi Ekonomi RI Tetap Aman

Keguncangan besar terjadi pada April 2025, ketika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberlakukan rezim tarif baru secara luas untuk merombak arus perdagangan global dan menekan defisit negaranya.

Kebijakan itu memicu gejolak pasar, ketidakpastian dunia usaha, serta penyesuaian rantai pasok global, seperti dikutip dari situs DW, Kamis, 25 Desember 2025.

img_title Rupiah Melemah ke Rp 17.650 saat Pendapatan Kelas Menengah RI Anjlok dan Tensi Iran-AS Kembali Melonjak

Meski Washington telah mencapai sejumlah kesepakatan dengan mitra dagangnya, tarif rata-rata AS melonjak tajam dari 2,5 persen saat Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari tahun ini menjadi 17,9 persen, level tertinggi sejak 1934, menurut perhitungan Budget Lab Universitas Yale.

Mahkamah Agung AS diperkirakan akan memutuskan pada 2026 apakah presiden berwenang memberlakukan tarif dengan dalih keadaan darurat nasional tanpa persetujuan Kongres.

Banyak pengamat memperkirakan pengadilan akan menguatkan putusan pengadilan bawah yang menyatakan tarif Trump tidak sah. Namun, pemerintah AS masih berpeluang mencari celah hukum lain untuk mempertahankan sebagian kebijakan tersebut.

Perang dagang AS dan China juga diprediksi berlanjut. Meski kedua negara sepakat melakukan gencatan senjata dagang selama 12 bulan setelah pertemuan Donald Trump dan Presiden Xi Jinping pada Oktober 2025, rivalitas strategis tetap mengemuka.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Kesepakatan itu lebih menyerupai gencatan senjata ketimbang perdamaian jangka panjang. Persaingan geopolitik, terutama dalam teknologi pertahanan, kecerdasan buatan (AI), komputasi kuantum, dan robotika, akan terus mendorong penggunaan tarif dan sanksi ekonomi," kata Rajiv Biswas dari Asia Pacific Economics.

Ekonomi China diperkirakan tetap tumbuh sekitar 5 persen pada 2026. Namun, persoalan struktural masih membayangi, seperti penuaan penduduk, menurunnya produktivitas modal, dan kelebihan kapasitas di sektor industri berat.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut