Kronologi Terbongkarnya Kebohongan Dwi Hartanto
- Laman KBRI Den Haag
"Saya menilai mereka (teman Indonesia Dwi di TU Delft) sebagai pihak yang mengetahui kebohongan publik yang dilakukan oleh Dwi Hartanto dan menginginkan agar kebohongan ini dihentikan," kata dia.Â
Deden mengatakan, teman Dwi di kampus itu sebenarnya sudah menemui Dwi dan memintanya untuk berhenti berbohong ke publik. Tapi ajakan persuasif itu malah tak ditanggapi serius oleh Dwi.Â
Tak berhasil membujuk Dwi, kolega sekampus itu kemudian mencari cara lain untuk menghentikan kebohongan Dwi.Â
"Salah satunya adalah menghubungi saya dan mereka pun memberikan izin kepada saya untuk menggunakan kedua dokumen dalam menyiapkan tulisan ini," tulis Deden.
Cek Silang
Deden kemudian mengecek dokumen yang dia terima. Misalnya dia membaca transkrip wawancara Dwi dalam program Mata Najwa pada Oktober 2016. Deden menyempatkan juga melihat video wawancara itu. Pada awal wawancara, kata Deden, dia sudah melihat ada tanda kebohongan pada Dwi yang mengaku seorang postdoctoral dan assistant professor serta berkecimpung dalam bidang teknologi roket.
"Seorang postdoctoral adalah bukan seorang assistant professor. Kedua posisi ini adalah dua posisi yang berbeda dan tidak bisa seorang menduduki kedua posisi ini bersamaan di satu institusi yang sama," ujar Deden.Â
Profesor Deden menyempatkan untuk cek silang klaim Dwi yang dipanggil khusus oleh BJ Habibie. Dia kemudian mengakses koleganya yang dekat dengan keluarga mantan Presiden BJ Habibie. Dari pengecekan itu, didapat pengakuan yang sebaliknya dari klaim Dwi selama ini.Â
Ternyata, pertemuan itu bukan permintaan BJ Habibie, malah belakangan Dwi mengaku dia yang meminta dipertemukan dengan BJ Habibie.
"Selain itu, pertemuan informal tersebut dihadiri oleh banyak orang dan tidak ada pembicaraan khusus mengenai aerospace engineering antara Bapak B.J. Habibie dengan Dwi Hartanto seperti banyak diberitakan oleh media," kata Deden.
Deden mengatakan, sama seperti dengan kolega sekampus Dwi, dia tak bisa diam dengan pembohongan publik Dwi. Sebab bila dia mendiamkan berarti ikut membenarkan kebohongan tersebut.Â
"Kebohongan yang dilakukan oleh Dwi Hartanto juga merusak nama baik ilmuwan secara umum. Ilmuwan adalah suatu profesi yang memerlukan integritas dan kode etik yang tinggi. Bidang keilmuan tidak akan berkembang bilamana pelakunya tidak memiliki integritas untuk menjaga kejujuran dan objektifitas bidang keilmuan," ujar Deden.Â