Minim Interaksi Sosial, Belajar Online Bikin Anak Stres

Ilustrasi sekolah atau belajar online.
Sumber :
  • IIUM Today

VIVA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyoroti adanya tekanan psikologis pada anak ketika digelar pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar online karena pandemi COVID-19. Tekanan ini bisa berupa stres lantaran minimnya interaksi dengan guru, teman, dan lingkungan.

img_title Nominal Hadiah Dipersoalkan, Pemerintah Siapkan Skema Baru untuk Siswa Berprestasi

Bagi siswa dan siswi yang cepat atau mudah beradaptasi, belajar online bukan sebuah masalah. Namun tidak demikian bagi anak yang sulit atau tidak cepat beradaptasi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Alih-alih efektif, PJJ justru mendatangkan tekanan, terlebih saat menghadapi ujian sehingga membuat anak kurang termotivasi untuk belajar. Tak bisa dipungkiri, pandemi COVID-19 telah mengubah tata cara belajar mengajar dari sistem tatap muka langsung menjadi belajar online di Indonesia.

img_title Tak Hanya soal Lahan, DPR Soroti Trauma Anak-anak di Konflik Agraria Sukajaya Bogor

Menurut laporan yang dikeluarkan PwC dan UNICEF bertajuk GenU (Generation Unlimited) Tahun 2020 menyatakan satu dari tiga siswa di seluruh dunia atau sekitar 463 juta anak muda tidak dapat mengakses pembelajaran secara daring selama sekolah ditutup.

Menurut Psikolog Intan Erlita, tekanan psikologis pada anak tidak terlepas dari kedudukannya sebagai makhluk sosial. Di mana mereka butuh untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain. Dalam hal ini bukan saja orangtua, tetapi juga teman seusia, guru, dan lingkungannya.

img_title Abu Vulkanik di Jakarta Turun Signifikan, Pramono Perpanjang PJJ Sampai Besok

"Mau itu TK, SD, SMP maupun SMA, mereka ini membutuhkan kontak atau sosialisasi yang cukup tinggi. Pandemi membuat mereka kehilangan masa-masa yang dikatakan sebagai 'hubungan manusia', hubungan bagaimana dia beradaptasi. Inilah menimbulkan stres tersendiri," kata dia, Selasa, 9 Maret 2021.

Kondisi ini diperburuk dengan tuntutan belajar yang tinggi, tugas-tugas yang banyak, namun waktu yang tersedia untuk mengerjakan sedikit serta tidak adanya waktu untuk mengaktualisasikan diri.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Intan menyebut bahwa banyak anak akhirnya merasa jenuh dan lelah pada level ini yang kemudian tidak hanya berdampak pada nilai yang turun tapi juga emosi yang tidak terkontrol.

“Jadi mereka gampang marah, gampang seolah-olah kayak ngelawan sama orangtuanya, enggak nyaman dengan kondisinya. Ini yang terjadi dengan anak-anak kita saat ini. Jadi kondisi memasuki ujian itu ada dua, ada siswa yang ‘Ok I'm ready’ dan ada juga yang konteksnya enggak siap yang akhirnya stres,” ungkap Intan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut