Pokemon Go Bisa Ditandingi dengan 'Tuyul Go'
- REUTERS/Mark Kauzlarich
“Itu namanya location based service (LBS). Itu sebenarnya sama dengan kita pakai Google Maps, misalnya kita sampai lokasi tertentu tiba-tiba dapat iklan hotel atau tempat makan tertentu. Itukan karna kita mengaktifkan Google Maps. GPS-nya nyala. Itu yang membuat Google tahu kita dimana dan langsung ditawari lokasi resto terdekat. Bedanya kalau Pokemon Go yang ditawarkan permainan ada monsternya,” jelas Fahmi.
Tuyul vs Pokemon
Teknologi semacama ini kalau di dunia geospasial, lanjut Fahmi, sebenarnya tidak terlalu heboh karena sudah diketahui sejak lama. Namun di Indonesia diketahui pengembangnya sedikit.
“Sebenarnya jika kita manfatkan dengan teknologi yang sama mudah, misalnya kalau ada pengembang software yang cerdas, kita bisa kembangkan permainan seperti ini. Namanya bukan Pokemon-lah, namanya Tuyul Go, atau kuntilanak, pocong atau suster ngesotlah. Ya untuk apa, untuk pariwisata jadi agar orang berkunjung ke tempat-tempat tertentu. Misalnya ditempatkan di Lawang Sewu, nangkep pocong tapi di gadget karena kalau foto beneran susah,” ucap Fahmi sambil tertawa.
Lebih lanjut ia menambahkan bahwa kekhawatiran akan permainan tersebut hendaklah disikapi dengan bijak. Ada baiknya pemerintah membuat kesepakatan dengan pihak Pokemon Go untuk tidak menyebar ‘monster’ di objek vital dan strategis. Jika masih membandel maka Pemerintah bisa memblokirnya seperti situs porno.
“Kalau saya, ya mending ginilah. Saya cenderung ke resolusi teknologi juga. Bikin kompetisi di perguruan tinggi. Bikin permainan seperti ini. Sebenarnya teknologi ini enggak terlalu sulit. Bikinlah yang kaya gini tapi khas Indonesia yang mendidik. Itu yang lebih joss dari pada kita khawatir dengan Yahudi-lah, CIA-lah.” lanjut dia.
(ren)