WFH Ternyata Bisa Bikin Burnout, Kok Bisa?

Ilustrasi gen z bekerja
Sumber :

VIVA – Fleksibilitas kerja, termasuk bekerja dari rumah, pernah dipandang sebagai jawaban atas stres dan burnout di dunia profesional modern. Janji kebebasan, keseimbangan hidup, dan lepas dari rutinitas nine-to-five membuat kebijakan hybrid dan “bekerja dari mana saja” menjadi ciri khas pasca-pandemi. 

img_title 10 HP Murah Terbaik untuk Office Boy, mulai Menyiapkan Meeting hingga Mengurus Logistik

Namun, riset terbaru dan pengalaman di industri menunjukkan kenyataan lebih kompleks, yaitu tanpa batasan yang jelas, fleksibilitas justru memperpanjang jam kerja dan menimbulkan tekanan baru bagi karyawan. Scroll untuk info lebih lanjut!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Alih-alih mempersingkat hari kerja, fleksibilitas sering membuat karyawan mulai bekerja lebih awal, membalas pesan hingga larut malam, dan sulit benar-benar lepas dari pekerjaan. Seorang manajer menengah di perusahaan teknologi Bengaluru, India, mengungkapkan realitanya. 

img_title Lari 5K PORSENI Bakrie 2026 Berhasil Diikuti Ribuan Pelari, mulai dari Pekerja hingga Pecinta Olahraga

“Meskipun jadwal saya fleksibel, saya merasa tidak pernah benar-benar bebas dari pekerjaan. Batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi benar-benar kabur,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari India Today, Sabtu, 31 Januari 2026.

Harish, pekerja yang bekerja di perusahaan multinasional di Noida, juga mengungkapkan hal yang sama. “Bekerja dari rumah terdengar menyenangkan sampai hari kerja terasa tak pernah berakhir, tubuh kelelahan, tuntutan produktivitas terus meningkat, dan fleksibilitas yang dijanjikan ternyata tidak konsisten sama sekali,” ungkapnya. 

img_title Deretan Peluang Karier Makin Luas di Tanah Air: dari Ritel hingga Teknologi Informasi

Riset dari Harvard menegaskan bahwa ketika jam mulai dan berhenti tidak didefinisikan, pekerjaan cenderung memakan seluruh waktu yang tersedia. Email, pesan instan, dan panggilan larut malam menimbulkan persepsi ketersediaan tanpa henti, membuat karyawan sulit memulihkan diri secara mental dan emosional. 

Menurut Dr. Umesh Kothari, Assistant Dean di SP Jain School of Global Management, tidak semua karyawan mampu menyesuaikan diri dengan fleksibilitas.

“Fleksibilitas, seperti yang diterapkan saat ini, tidaklah membebaskan secara inheren, ini adalah desain organisasi yang belum lengkap. Ketika batasan diserahkan pada kehendak individu, beban justru jatuh pada karyawan yang paling bertanggung jawab,” ungkapnya. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Beberapa praktisi menekankan pentingnya membangun batasan strategis dan rutinitas yang jelas agar fleksibilitas tidak berujung pada burnout. 

Dari sisi perusahaan, fleksibilitas diposisikan sebagai keuntungan progresif. Namun, ketika tidak diatur, hal ini bisa menjadi mekanisme penghematan biaya yang memindahkan tanggung jawab keseimbangan kerja–hidup sepenuhnya ke karyawan. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut