Perang Dingin Teknologi Amerika Serikat dan Huawei

Huawei.
Sumber :
  • Asia Times

VIVA – Perang Dingin atau Cold War adalah istilah yang menunjukkan ketegangan sekaligus kompetisi antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, sekarang Rusia, pada periode 1947-1991. Kala itu, persaingan terjadi dalam mempertahankan ideologi serta hegemoni dipelbagai kawasan.

img_title Deretan Mesin Paling Rumit dalam Sejarah Otomotif

Kini, Perang Dingin bangkit kembali. Namun kali ini AS tidak berseteru dengan Rusia melainkan China lewat raksasa teknologi mereka, Huawei. Ya, dunia sekarang tengah dihadapi Perang Dingin Teknologi (Tech Cold War). Bahkan, negara-negara Eropa sampai ikut-ikutan Paman Sam 'menghukum' Huawei.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Makin meruncingnya perang dagang ini sampai membuat Pendiri dan Kepala Eksekutif Huawei, Ren Zhengfei, geleng kepala. Ia seakan tidak percaya kalau perusahaan-perusahaan teknologi di Benua Biru itu mengikuti jejak rekan-rekannya dari AS.

img_title Deretan Mobil Murah Berteknologi Canggih, Harga Terjangkau Tapi Fitur Maksimal

Bukan tanpa alasan mengapa Ren begitu heran dengan keputusan tersebut. Sebab, sebelumnya ia tidak begitu pusing dengan embargo AS lantaran beberapa komponennya bisa dipasok dari mitra mereka dari Eropa. Dan, hal itu sudah diungkapkannya dalam sebuah wawancara, seperti dikutip dari ZDNET, Senin, 27 Mei 2019.

Deputy Chairman Huawei, Ken Hu.

img_title HUAWEI Matepad 11.5, Tablet Ideal dengan Produktivitas Setara Laptop Memudahkan Akses Google Apps dan Aplikasi Favorit
Deputy Chairman Huawei, Ken Hu.

Ren juga mengaku sudah mengumpulkan persediaan chip dan mengembangkan sistem operasinya sendiri untuk berjaga-jaga andaikata perang dagang AS dan China makin memanas.

"Apabila pasokan dari mitra kami tidak mencukupi maka kami tidak akan menghadapi masalah. Ini karena kami dapat memproduksi semua chip premium sendiri. Dalam 'masa damai', kami mengadopsi kebijakan '1+1' yang artinya setengah komponen chip dari mitra AS dan setengah dari Huawei," kata Ren.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Kami pun tidak berpikir Eropa akan mengikuti jejak Amerika Serikat yang 'menutup diri' dengan Huawei," ungkapnya, menambahkan. Pernyataan Ren ini keluar setelah raksasa semikonduktor asal Inggris, Arm, menginstruksikan untuk menangguhkan kerja sama pasca-AS memasukkan Huawei dan 70 entitas lainnya ke dalam Entity List.

"Kami mematuhi semua aturan terbaru yang ditetapkan oleh pemerintah AS. Kami tidak mau berkomentar lebih jauh lagi," demikian keterangan resmi Arm. Tak pelak, keputusan Arm menjadi pukulan besar bagi Huawei, karena chip Kirin menggunakan arsitektur berdasarkan yang dibuat oleh perusahaan perancang chip Inggris itu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut