Hati-hati, Tsunami 28 Meter Bisa Hantam Selandia Baru

Ilustrasi tsunami.
Sumber :
  • Pexels

Selandia Baru – Belum lama ini penemuan penelitian mengatakan bahwa gelombang tsunami setinggi 92 kaki (28 meter) dapat menghantam beberapa bagian Selandia Baru dalam skenario gempa Bumi terburuk.

img_title Pemerintah Minta Masyarakat Tak Termakan Isu Tsunami Buntut Erupsi Anak Krakatau

Dilansir VIVA Tekno dari Live Science, Rabu, 13 Desember 2023, dalam penelitian para peneliti menggunakan metode baru untuk meneliti simulasi gempa bumi untuk memahami kemungkinan risiko tsunami di Pulau Utara dan Selatan Selandia Baru.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ilustrasi tsunami.

Photo :
  • pixabay

img_title Badan Geologi: Pertumbuhan Anak Krakatau Pasca 2018 Relatif Kecil

Mereka menemukan bahwa gelombang terbesar kemungkinan besar akan menghantam sepanjang pantai timur laut Pulau Utara.

Hal ini dikarenakan zona subduksi Hikurangi, tempat lempeng tektonik Pasifik menunjam ke bawah lempeng tektonik Australia, berada di lepas pantai.

img_title Badan Geologi Ungkap Potensi Bahaya di Balik Erupsi Berulang Anak Krakatau

"Ada rentang waktu yang sangat singkat (antara) ketika gempa bumi ini terjadi dan ketika gelombang tsunami menghantam," kata penulis pertama studi Laura Hughes, seorang mahasiswa doktoral di Victoria University of Wellington, Selandia Baru.

Karena kedekatan Selandia Baru dengan zona subduksi, yang dapat menciptakan gempa Bumi besar yang menghasilkan tsunami, maka penting untuk memahami risiko gelombang dahsyat ini.

Upaya-upaya sebelumnya telah menggunakan gempa bumi historis untuk mencoba memahami risiko di masa depan, kata penulis senior studi Martha Savage, ahli geofisika di Victoria University of Wellington.

Namun, catatan sejarah hanya kembali ke sekitar 150 tahun yang lalu. Studi geologi dapat menemukan bukti gempa yang lebih tua, namun catatan tersebut tidak lengkap.

Sebagai gantinya, para peneliti beralih ke metode yang berbeda: gempa sintetis. Metode ini menggunakan model komputer, di mana para peneliti menambahkan semua yang mereka ketahui tentang geometri dan fisika sistem patahan, termasuk hal-hal seperti lokasi patahan dan jumlah gesekan pada patahan tersebut.

Mereka kemudian mensimulasikan gempa bumi selama puluhan ribu tahun untuk mencoba menentukan seberapa sering gempa bumi besar terjadi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Metode ini tidak sempurna karena sistem patahan tidak sepenuhnya diketahui, kata Savage, tetapi metode ini melengkapi catatan sejarah dan geologi.

"Kami dapat memasukkan berbagai properti yang kami pikir mungkin ada dan mendapatkan kisaran potensi gempa bumi dan kisaran potensi tsunami yang mungkin terjadi," kata Hughes.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut