Ariel yang misterius
- VIVA/Amal Nur Ngazis
Para peneliti menemukan bahwa saat mereka menggabungkan dua sisi jurang Ariel seolah-olah menariknya kembali, kedua sisinya cocok dengan sempurna, dan alur paralel yang terlihat di dasar beberapa jurang konsisten dengan material yang diendapkan dari waktu ke waktu.
Ada sejumlah alasan mengapa hal ini menarik. Di masa lalu, Bulan-Bulan Uranus telah memasuki orbital lockstep, di mana periode orbitnya membentuk rasio yang tepat yang dikenal sebagai resonansi.
Resonansi orbital menghasilkan tarik-tarikan gravitasi yang menghasilkan pemanasan internal, pencairan, dan pembekuan ulang.
Periode resonansi semacam itu dapat menjadi penyebab perubahan pada permukaan Ariel, tapi periode itu juga dapat menghasilkan samudra tersembunyi dengan membuat bagian dalam Bulan cukup hangat untuk mempertahankan air asin yang cair.
Pengamatan terbaru dari Teleskop James Webb (JWST) mengisyaratkan kuat bahwa samudra semacam itu ada di Ariel.
Jika memang demikian, lautan bisa jadi bertanggung jawab atas es karbondioksida yang terlihat di permukaan Bulan dan pada jurang-jurangnya, tetapi hingga kini informasi yang kita miliki terlalu sedikit untuk diketahui.
"Ada banyak hal yang belum kita ketahui. Dan meskipun es karbonoksida hadir di permukaan Ariel, masih belum jelas apakah es tersebut terkait dengan alur tersebut karena Voyager 2 tidak memiliki instrumen yang dapat memetakan distribusi es," tutur Chloe.
Sudah saatnya mengirim misi eksplorasi ke Uranus dan Neptunus. Mari tambahkan alur misterius Bulan Ariel ke dalam daftar hal-hal yang akan disaksikan saat hal itu akhirnya terjadi.