Jangan Terlalu Sering 'Insecure'
- Pixabay/jill111
Dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif, pihaknya menerapkan berbagai kebijakan yang mendorong kesetaraan dan memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan dalam berkarir.
Sejak berdiri pada 2018, jumlah tenaga kerja perempuan di perusahaannya mengalami pertumbuhan signifikan, dari hanya satu orang pada tahun pertama menjadi tiga puluh orang pada tahun ini, atau sekitar dua puluh persen dari total karyawan. Bahkan, beberapa di antaranya telah menduduki posisi manajerial.
"Kami membuka lebih banyak peluang bagi perempuan Indonesia untuk berkarir di bidang EPC yang selama ini masih didominasi oleh laki-laki," jelas Ading.
![]()
Project Control Manager TMU, Dahliana Mega, menyampaikan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki peran serta kesempatan yang sama. Meskipun masih menjadi kelompok minoritas di lingkungan kerja, hal itu tidak menjadi hambatan bagi perempuan untuk berkontribusi dan berkembang.
“Ketika kami di dunia kerja yang notabene didominasi laki-laki, kami masuk di situ sebagai minoritas. Namun, bagaimana kami bersikap, bertindak, itu bukan jadi satu halangan untuk maju,” paparnya.
Dahliana percaya bahwa setiap perusahaan dapat memainkan peran lebih besar dengan mendorong inklusivitas di lingkungan kerja, menyediakan program mentoring, serta menciptakan kebijakan yang mendukung keseimbangan kerja dan kehidupan.
“Kemampuan seseorang tidak ditentukan oleh gender, tetapi oleh bagaimana ia terus berkembang dan beradaptasi. Untuk para perempuan Indonesia, jangan takut menghadapi tantangan, perbanyak pengalaman di lapangan, dan tetap percaya diri,” tutur dia.
Dahliana meraih gelar Sarjana Teknik Sipil dari Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) Jakarta. Saat ini, ia sedang melanjutkan studi Magister di bidang Teknik Sistem Energi di Universitas Indonesia guna memperdalam pengetahuan dan keahliannya.
![]()
Hal serupa disampaikan HSE Officer Tectona Mitra Utama, Devoni Putri Rahajeng.
Menurutnya, kesetaraan gender dan prinsip inklusivitas telah menjadi budaya di lingkungan kerjanya, di mana rekan-rekan kerja laki-laki justru memberikan dukungan penuh kepada perempuan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka.
“Pada saat di site, rekan-rekan kerja juga tidak membanding-bandingkan. Jadi, kita punya suara yang sama,” ujar dia.