Rusia dan China Kalahkan AS

Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping, dan Presiden Iran Ebrahim Raisi.
Sumber :
  • alarabiya.net

Jakarta, VIVA - Amerika Serikat (AS) tertinggal dari Rusia dan China dalam pengembangan drone militer atau pesawat tempur nirawak bertenaga kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

img_title China Siap Ambil Alih Keketuaan BRICS pada 2027

Hal tersebut dilaporkan New York Times, mengutip pejabat pertahanan dan intelijen AS yang tidak disebutkan namanya. Drone generasi berikutnya mampu mengidentifikasi dan menyerang target, serta mengoordinasikan serangan tanpa campur tangan manusia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebuah parade militer di Beijing, China, pada September 2025 yang menampilkan sejumlah drone otonom membuat para pejabat Pentagon (Departemen Perang AS) percaya bahwa "program Amerika untuk drone tempur tanpa awak tertinggal dari China".

img_title Hampir 1 dari 5 Mobil Baru di Indonesia Berasal dari Merek China

Surat kabar itu mengutip sumber pertahanan AS yang mengatakan bahwa Rusia juga "dianggap lebih unggul dalam membangun fasilitas yang dapat memproduksi drone canggih,"  dan menggunakan medan perang Ukraina untuk "menguji dan menyempurnakannya".

Beijing lalu mengejar "integrasi sipil-militer," yang melibatkan perusahaan teknologi komersial dan perusahaan rintisan (startup) dalam "pengadaan militer, penelitian bersama, dan pekerjaan lain dengan lembaga pertahanan".

img_title Iran Ajukan 7 Syarat ke AS untuk Buka Selat Hormuz

Menurut New York Times, “dominasi manufaktur China berarti negara itu dapat memproduksi senjata otonom dalam skala yang tidak dapat ditandingi Pentagon”.

Sebagai contoh, disebutkan pesawat tak berawak Jiutian (Langit Tinggi) bertenaga jet kelas berat buatan China, yang dirancang untuk berfungsi sebagai 'kapal induk,' dan berhasil diuji coba akhir tahun lalu.

Drone yang dikembangkan oleh Aviation Industry Corporation of China (AVIC) ini dikatakan mampu membawa hingga 100 pesawat tak berawak kamikaze yang lebih kecil yang dipandu AI, serta berbagai amunisi udara-ke-permukaan dan udara-ke-udara.

New York Times juga mencatat bahwa Rusia telah membuat kemajuan dalam melengkapi amunisi jelajah Lancet miliknya dengan fitur penargetan otonom. Meskipun pemerintah AS telah menggelontorkan miliaran dolar AS untuk mengejar ketertinggalan dengan para pesaingnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"'Sistem pengadaan Pentagon, yang dibangun berdasarkan kontraktor lama dan jangka waktu yang panjang,' sebelumnya terbukti tidak efisien," demikian menurut publikasi tersebut.

Pada September 2025, CNN, mengutip Komandan Divisi Lapis Baja ke-1 Angkatan Darat AS Mayor Jenderal Curt Taylor, juga melaporkan bahwa Washington DC sedang berupaya mengejar ketertinggalan dalam produksi drone militer.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut