Gangguan Paru, Ini Bahaya Mengerikan Jika Terus Merokok
Rabu, 18 November 2015 - 16:22 WIB
Sumber :
- Freewallpaper
VIVA.co.id
- Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) atau disebut Chronic Obstructive Pulmonary Disease, merupakan penyakit kronik saluran napas yang dapat dicegah dan diobati, namun tidak menutup kemungkinan risiko kematian.Â
Konsumsi rokok yang makin tinggi di Indonesia sejak 1970, menjadi penyumbang terbesar seseorang menderita PPOK. Perokok berisiko meninggal akibat berbagai penyakit akibat rokok, utamanya PPOK.
Dari WHO menyebut, 59 persen laki-laki dan 3,7 persen perempuan Indonesia perokok. Indonesia merupakan negara kelima dengan konsumsi rokok terbanyak sedunia. Jumlah pembakaran batang rokok di Indonesia 215 miliar batang, di bawah Rusia 258 miliar batang.
Konsumsi rokok yang makin tinggi di Indonesia sejak 1970, menjadi penyumbang terbesar seseorang menderita PPOK. Perokok berisiko meninggal akibat berbagai penyakit akibat rokok, utamanya PPOK.
Dari WHO menyebut, 59 persen laki-laki dan 3,7 persen perempuan Indonesia perokok. Indonesia merupakan negara kelima dengan konsumsi rokok terbanyak sedunia. Jumlah pembakaran batang rokok di Indonesia 215 miliar batang, di bawah Rusia 258 miliar batang.
Saat ini, PPOK menjadi penyebab keenam kematian setelah gangguan perinatal atau kematian dalam masa kehamilan. "Namun di 2020 penyakit ini diproyeksi akan menjadi penyebab kematian ketiga, setelah jantung dan kardiovaskuler," jelas Pokja asma-PPOK PDPI, Prof.Dr.Faisal Yunus, PhD,Sp.P(K) dalam acara World COPD Day 2015 di RS Persahabatan, Rabu, 18 November 2015.
Seseorang bisa diduga menderita PPOK saat menunjukkan gejala sesak napas disertai penurunan fungsi paru secara progresif. Penyebab utama PPOK adalah terkena asap rokok, polusi (baik di dalam maupun di luar rumah) dan terpapar bahan kimia.Â
Halaman Selanjutnya
Saat ini, PPOK menjadi penyebab keenam kematian setelah gangguan perinatal atau kematian dalam masa kehamilan. "Namun di 2020 penyakit ini diproyeksi akan menjadi penyebab kematian ketiga, setelah jantung dan kardiovaskuler," jelas Pokja asma-PPOK PDPI, Prof.Dr.Faisal Yunus, PhD,Sp.P(K) dalam acara World COPD Day 2015 di RS Persahabatan, Rabu, 18 November 2015.