Kenali Ciri Sekolah yang Aman dari Radikalisme

Ilustrasi anak sekolah.
Sumber :
  • Pixabay/Public domain pictures

VIVA – Tak lama lagi, agenda pendidikan di Indonesia akan memasuki tahun ajaran baru, yaitu yang biasanya jatuh pada bulan Juni-Juli. Sebagian dari Anda mungkin sudah mulai menimbang dan menyeleksi sekolah mana yang tepat untuk anak melanjutkan pendidikan. Termasuk sederet ekspektasi peningkatan kecerdasan anak ketika ia sudah memasuki sekolah baru.

img_title Mahfud MD Sebut Ada 6.000 Lebih WNI Gabung Kelompok Teroris

Pertimbangan umum ketika orangtua menjatuhkan pilihan sekolah anak, biasanya melibatkan aspek pola pengajaran, kurikulum, budaya sekolah, prestasi, biaya, serta lokasi. Aspek-aspek tersebut memang penting diperhatikan agar kebutuhan individu anak dalam mendapat pendidikan bisa terpenuhi. Apalagi sekolah juga menjalankan fungsi sebagai agen pembelajaran dan pendidikan, sekaligus rumah kedua bagi anak.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mengingat beberapa tahun belakangan marak isu radikalisme di lingkungan akademis, orangtua semestinya menambahkan aspek ini dalam memilih sekolah untuk anak. Radikalisme yang menjalar di lembaga pendidikan itu bukan sekadar asumsi. Data survei dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah menunjukkan pengaruh intoleransi dan radikalisme menyebar ke banyak sekolah dan universitas di Indonesia.

img_title Polisi Kerap Disasar Serangan Teroris, Begini Penjelasan Kompolnas

Potensi radikalisme di lima provinsi di Indonesia hasil survei BNPT, The Nusa Institute, dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme.

Dari penelitian yang melibatkan ribuan siswa dengan latar belakang generasi Z (kelahiran tahun 1996-2012) dari 34 provinsi itu, ditemukan lebih dari sepertiga muslim setuju bahwa jihad adalah perang, terutama perang melawan non muslim. Sebanyak 1 dari 5 responden setuju bahwa bom bunuh diri adalah jihad Islam.

img_title Al Baghdadi Tewas, Mabes Polri Tetap Waspada

Sepertiga muslim generasi Z dalam responden itu setuju, muslim yang murtad (keluar dari agama Islam) harus dibunuh. Hampir sepertiga mereka juga berpendapat bahwa perbuatan intoleran terhadap minoritas adalah tidak masalah.

Senada dengan penelitian UIN Syahid tersebut, M. Abdullah Darraz, Direktur Eksekutif Maarif Institute mengatakan, "Kami sudah melakukan riset sejak 2011 dan menemukan bahwa gejala radikalisme itu sudah sedemikian rupa masuk ke sekolah dan hingga saat ini ekskalasinya cukup tinggi, lebih tinggi dari sebelumnya," katanya pada VIVA beberapa waktu lalu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bahaya radikalisme

Jika mengacu pada data itu, radikalisme di sekolah penting untuk kita waspadai. Mengapa? Menurut Alissa Wahid, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, aktivis toleransi lintas agama, serta psikolog anak dan keluarga, radikalisme bisa jadi biang anak menganut pola pikir sempit yang mendorongnya menjadi pelaku kekerasan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut