- The Korea Herald
Menteri Energi India, Sushil Kumar Shinde akhirnya meminta negera bagian yang dituding jadi biang untuk berhenti mengambil kuota pasokan listrik. Laporan media menunjukkan, negara bagian Uttar Pradesh merupakan salah satu negara bagian yang rakus listrik tersebut.
"Saya telah menginstruksikan pejabat kami untuk menghukum negara bagian yang mengambil kuota lebih listrik," ujar Shinde.Â
Namun tudiangan dari pemerintah itu dibantah pleh pejabat negara bagian. Ketua Power Grid Corporation di Uttar Pradesh, Anil K Gupta mengatakan, tak ada alasan untuk memercayai bahwa negara bagiannya menjadi salah satu biang listrik padam naisional. Gupta malah meminta pemerintah bersabar dan menunggu penyelidikan lebih lanjut apakah sebenarnya penyebab listrik padam nasional tersebut.Â
Kekecauan India akibat listrik padam total membuat rakyat berteriak dan gusar resah. Penjaga toko di Delhi, Anu Chopra memahami kondisi krisis kacau ini dan tak seharusnya terjadi selama dua hari berturut-turut. Insiden listrik padam total ini menurutnya, menunjukkan wajah manajemen listrik India yang tidak profesional.
"Itu hanya menunjukkan infrastruktur kita berantakan total. Tidak ada transparansi dan tidak ada akuntabilitas sama sekali," ujar Chopra.Â
Dampak listrik padam ini sangat dirasakan oleh industri perbankan, Karyawan Bank of India di Delhi, Smriti Mehra mengatakan, mereka sampai menolak-nolak nasabah. Sebab semua aktivitas perbankan lumpuh.Â
"Tak ada internet, tak ada yang berfungsi. Ini adalah gangguan total dari semua yang ada di kantor kami," ujarnya.
Dalam keterangan kepada media, Ketua Power Grid Corporation mengatakan, penyebab listrik padam total belum jelas. Namun dia menduga karena 'interkoneksi jaringan'. Sang ketua itu mengatakan, perlu dilihat kenapa tiba-tiba ada peringkatan beban daya listrik.Â
"Kami akan memastikan situasi seperti ini tak terulang," kata dia.Â
Pejabat pada otoritas listrik pusat India mengatakan, insiden listrik padam total yang meruntuhkan tiga jaringan listrik itu belum pernah terjadi sebelumnya. Kala itu, pejabat kelistrikan pusat tersebut memperkirakan butuh setidaknya waktu sehari untuk memulihkan tiga jaringan listrik yang lumpuh.Â
Menurut para pejabat kelistrikan nasional, sebagai respons situasi krisis, pemerintah mengandalkan pembangkit listrik tenaga air alias PLTA, dibanding dengan pembangkit listrik tenaga panas bumi. Pertimbangannya pembangkit listrik termal akan memakan waktu yang lama dibanding PLTA, untuk pemulihan kondisi. Â