Karena itu tak heran jika pemerintah getol mencekik peredaran minyak tanah. Pada 2007, konsumsi minyak tanah nasional masih di kisaran 9,85 juta kiloliter, dan drop jadi 7,83 juta kiloliter tahun ini. Angka ini akan terus diperosotkan hingga 3,08 juta kiloliter pada 2009. Bahkan pada 2010 nanti, pemerintah bertekad untuk membebaskan negeri ini dari minyak tanah. "Hanya diperuntukkan bagi penerangan di desa terpencil," ujar Evita.
Di luar segala manfaat itu satu kritik masih kerap terdengar: faktor keamanan. Media ramai memberitakan ditemukan sejumlah kasus tabung gas yang meledak—meski jumlahnya tidak lah signifikan. Hal ini, demikian Evita mengakui, karena kurangnya pengawasan pemerintah terhadap tabung elpiji yang beredar. "Terus terang, kami tidak pernah melakukan pengecekan," katanya. Mulai tahun depan pemerintah akan menunjuk sebuah lembaga untuk melakukan tugas ini.
Keamanan satu soal. Tapi ada soal lain yang kini lebih mendesak buat Halimah: ketersediaan si Biru di pasar.