- AP Photo/Tara Todras-Whitehill
Senasib dengan Internet, jaringan ponsel, layanan SMS, BlackBerry Messenger pun mengalami hal serupa sejak Jumat pagi. Praktis hanya jaringan telepon kabel yang masih beroperasi di Mesir.
Pemblokiran Internet sengaja ditempuh Presiden Hosni Mubarak untuk membendung mobilisasi demonstran turun ke jalan menuntut pengunduran dirinya. Apalagi, saat itu para pengunjuk rasa memang berencana menggelar unjuk rasa terbesar selama beberapa tahun terakhir, selepas Salat Jumat.
Selama ini, demonstran yang telah memulai aksinya sejak 25 Januari 2011, memang memanfaatkan jejaring sosial Facebook dan Twitter untuk mendukung aksi-aksi mereka. Maka, pada hari pertama unjuk rasa, Mesir langsung memblokir Facebook dan Twitter. Toh, langkah itu tak kuasa membungkam para demonstran.
Para aktivis mampu menerobos blokade itu dengan memanfaatkan aplikasi ponsel serta aplikasi pihak ketiga, memanfaatkan situs-situs proxy (situs-situs perantara yang tidak diblok), menggunakan software khusus, atau mengunjungi Faceboook dan Twitter lewat jaringan Virtual Private Network yang terproteksi.
Menurut situs penelusur tren Twitter, Trendistic, topik #Jan25 dan #Egyptjustru mulai mengalami lonjakan pada hari di mana pemerintah menerapkan blokir internet. Trafik dengan topik tersebut bahkan semakin memuncak pada 29 Januari, saat aksi menginjak hari keempat. Lengkapnya, lihat di sini.
Mesir sebenarnya bukanlah salah satu negara dengan jumlah pengguna Facebook yang besar. Menurut situs pemeringkat Facebook,CheckFacebook, hanya ada sekitar 5,2 juta pengguna Facebook di Mesir dari total 80,5 juta pengguna Internet di negeri itu. Bandingkan dengan Indonesia yang memiliki 34,5 juta pengguna Facebook, dari total pengguna Internet yang hanya sekitar 45 juta.
Para pengamat pun terbelah dalam memandang peran media sosial dalam pergolakan Mesir. Ethan Zuckerman, salah satu pendiri media jurnalisme warga, Global Voices Online, mengatakan bahwa peningkatan suhu politik Tunisia dan Mesir lebih banyak terkait dengan tekanan kemiskinan dan perilaku diktator rezim yang berkuasa di sana, ketimbang peran media sosial.
Sementara Jared Cohen yang bekerja untuk Google Ideas, sebuah lembaga think thank baru milik Google, berpendapat lain. Cohen yang sempat bekerja bagi penasehat utama Clinton, pada 2009 pernah menelepon dan membujuk pimpinan Twitter untuk menunda penghentian sementara layanan Twitter dalam rangka perawatan sistem, agar para pengunjuk rasa Iran yang saat itu sedang turun ke jalanan di Teheran agar tetap bisa berkoordinasi satu sama lain melalui Twitter. "Tidak ada yang bisa menyamai revolusi Twitter," kata Jared, bersemangat.