SOROT 379

Rokok Pangkal Miskin

Ilustrasi rokok
Sumber :
  • Reuters

Penyumbang Kemiskinan

img_title Studi: Perokok Ganja Lebih Rentan terhadap Penyakit Mental

Rokok sudah menjadi kebutuhan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, rokok menjadi salah satu penyumbang terbesar kemiskinan di Indonesia. Rokok menjadi penyumbang kedua terbesar setelah beras, dengan kontribusi sebesar 8,08 persen terhadap garis kemiskinan di perkotaan. Sedangkan di perdesaan kontribusinya 7,68 persen. Data tersebut berdasarkan persentase penduduk miskin periode September 2015 yang mencapai 28,51 juta orang atau 11,13 persen dari total jumlah penduduk.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kepala BPS, Suryamin mengatakan, penduduk miskin memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan. Hal itu dihitung berdasarkan pengeluaran kebutuhan minimum yang disetarakan dengan 2.200 kalori per kapita per hari. "Di situ dihitung konsumsinya, termasuk konsumsi rokok. Jadi kalau beras share-nya 22 persen, rokok sekitar 8 persen. Konsumsi rokok ini secara nasional maupun dilihat dari bawah garis kemiskinan itu masih cukup tinggi. Jadi rokok ini benar penyumbang kedua setelah beras," ujarnya kepada VIVA.co.id, di kantornya, Kamis, 14 Januari 2016.

img_title Riset Temukan Sebab Pabrik Rokok Lebih Pilih Buruh Perempuan

Wawan dan Rasman tak sependapat dengan BPS. Mereka menilai, merokok adalah kebutuhan, entah cukup atau tidak penghasilan yang mereka peroleh setiap harinya, tetap harus merokok. "Ya nggak juga, orang-orang kaya juga banyak yang ngerokok. Malah rokoknya juga mahal-mahal. Jadi itu nggak bener," kata Wawan.

Namun, pendapat berbeda disampaikan istri Wawan, Ernawati (29). Ia sepakat dengan survei BPS. "Ya bisa jadi. Kalau nggak ngerokok kan uangnya bisa ditabung," ujarnya kepada VIVA.co.id, Kamis, 14 Januari 2016.

img_title Rokok dalam Regulasi Indonesia

Erna mengakui, penghasilan suaminya yang tak menentu ditambah biaya rokok memaksa dia harus memutar otak dalam mengelola penghasilan suaminya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan sekolah anak. Seikat kangkung, oncom ditambah seliter beras dirasa cukup untuk menu sehari-hari. "Kadang kita paksain, kita atur-atur lagi, kita cukup-cukupin aja."

Situasi yang sama juga dialami Rukmini (38), istri dari Wiji, pedagang sayur keliling di kawasan Pulo Nangka, Jakarta Timur. Rukmini mengatakan, suaminya merupakan perokok aktif. "Dia suka merokok, sehari habis satu bungkus. Kalau sampai kamar mulai bau rokok, saya ngomel, kan ada anak saya juga," ujar ibu dua anak ini.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut