- VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian
Namun, lama kelamaan terjadi diskusi yang intens antara mereka dan Gus Abror. Hasilnya, mereka bersepakat mendirikan dan membentuk sebuah komunitas yang diharapkan bisa membuat anggotanya selalu merasa lega dan bahagia.
“Ponpes Nurul Huda merupakan inspirasi luar biasa yang Gus Abror tunjukkan ke kami,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Kamis, 17 Maret 2016.
Menurut dia, Gus Abror merupakan tokoh kunci terkait lahirnya Zona Bombong. Sebab, pengasuh Ponpes Nurul Huda ini mampu menggeser cara pandang mereka terkait kebahagiaan dan bagaimana menyikapi persoalan hidup. “Gus Abror merupakan guru, sahabat, teman dan saudara bagi Zona Bombong.”
Gus Abror (41) tak menampik. Dia memang terlibat dalam proses kelahiran Zona Bombong. Bahkan, ia mengakui, nama Zona Bombong ia yang memberikan. Kyai Nyentrik ini menuturkan, awalnya ada wartawan media lokal yang datang ke Nurul Huda tanpa sepengetahuan dia.
Setelah itu berita tentang ponpes yang didedikasikan untuk anak-anak yatim piatu dan dhuafa itu muncul di media massa. Tak berselang lama, ada beberapa orang yang menyambangi pondoknya.
“Pertama Mas Budi (Roso Budiarso). Kemudian Budi ngajak Mas Heri. Setelah itu Mas Heri ngajak temen-temennya yang lain,” ujarnya saat VIVA.co.id menyambangi kediamannya di Cilongok, Purwokerto, Kamis, 17 Maret 2016.
Bapak empat anak ini menambahkan, Zona Bombong lahir melalui interaksi dan diskusi yang intens dan panjang. “Kenapa komunitas itu kami namai sebagai Zona Bombong, karena di sini lah kami ingin menjadi orang yang bahagia. Kebahagiaan yang hakiki, yang tidak tergantung materi dan jabatan. Nama Zona Bombong berangkat dari sana. Ketika mereka bertanya apa namanya, saya bilang Zona Bombong saja.”
![]()
Muhammad Abror atau Gus Abror, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda. Foto: VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian
Selanjutnya...Komunitas Membesar
Membesar
Awalnya, Zona Bombong hanya digawangi beberapa orang. Namun, seiring berjalannya waktu, komunitas ini terus berkembang dan membesar. Saat ini jemaahnya sudah mencapai seratusan lebih. “Jemaahnya beragam, mulai dari anggota DPR, kepala bank, kepala diler, tukang mi ayam hingga tukang tambal ban,” ujar Andien.