- VIVA.co.id/Nur Faishal
Suasana rumah makan itu tampak sepi, belum ada pelanggan. Yang bisa ditemui hanya pemilik warung, Sioe Sin, generasi ketiga pemilik warung, dan ibunya, Ng Giok Cu. Baru satu jam kemudian beberapa pelanggan berdatangan. "Warung rujak ini usaha keluarga. Makanya tempatnya di rumah sendiri," kata Sioe membuka obrolan.
Sejarah Berdirinya
Warung Rujak Cingur Ahmad Jaiz didirikan oleh seorang ibu rumah tangga keturunan Tionghoa bernama Lim Sian Neo pada tahun 1970. Ceritanya, waktu itu keluarga Lim sering didatangi seorang penjual cingur (daging sapi bagian mulut atau bibir) keliling asal Madura. Si penjual cingur kebetulan cacat mata atau tunanetra.
"Setiap hari penjual cingur buta itu berkeliling jalan kaki menawarkan cingur. Kalau jualan dia selalu bersama istri dan anaknya," kata Sioe Sin, pemilik warung generasi ketiga. Waktu itu, dia mengaku masih kecil.
Karena kasihan, Lim selalu membeli cingur yang ditawarkan penjual tersebut. "Tapi nenek saya kemudian bingung, mau dibuat apa cingur-cingur yang dibeli itu," ujar Sioe.
Dari situlah kemudian muncul ide untuk berjualan. Pilihan Lim ialah penganan khas Surabaya, rujak cingur. Warung sederhana pun di buka di rumahnya yang ditinggali keluarga besarnya sampai sekarang di Jalan Ahmad Jaiz. "Jadi ceritanya buka warung rujak cingur ya asal-asalan saja," tutur Sioe.
Awalnya, terang dia, sedikit pembeli yang menghampiri warung Lim. Meski harga yang dibanderol untuk satu porsi sama dengan harga warung rujak lainnya, Rp25. "Namanya jualan kan tidak langsung ramai. Butuh waktu," ungkap Sioe.
Pada tahun 1972, Lim mengalami musibah. Tangannya patah karena terjatuh. Ia tak bisa lagi menggunakan tangannya untuk mengulek bumbu rujak cingur. "Usaha ini lalu digantikan Mama saya (anak Lim), Ng Giok Cu," ucap Sioe.
Sejak diganti Giok Cu, pelanggan warung Rujak Cingur Ahmad Jaiz makin ramai. Meski tidak memakai papan nama, banyak penggemar rujak cingur yang datang ke warung ini. "Banyak pejabat di Surabaya juga sering ke sini," papar Sioe.
Ia juga menceritakan hampir semua presiden pernah mencicipi rujak ulekan keluarganya. "Pak Harto, Gus Dur, Mbak Mega, pernah makan rujak cingur kami. Tapi tidak datang langsung. Biasanya kalau ke Surabaya suruhannya yang membelikan, dibungkus," kata Sioe.