- VIVA.co.id/Twitter @_TNIAU
Menurut Wieko, memang tidak banyak anggota tim media sosial di TNI AU, jumlahnya hanya sekitar 5 sampai 7 orang, yang komposisinya bisa berubah-ubah. Artinya, Airmin-nya tidak tetap.
Yang ditugaskan pun tidak sembarangan melainkan mereka yang sudah terbiasa berkutat di media sosial. Tidak selalu anak muda atau generasi milenial. Bahkan, kata Wieko, ada yang umurnya sudah 40 tahun lebih. Tidak heran jika kemudian isi cuitan @_TNIAU cukup mengena bagi segala umur, baik generasi milenial maupun baby boomers.
“Kami berusaha untuk tetap ada batasannya. Gaul boleh tapi tidak menghilangkan karakter akun sebagai institusi militer. Ini yang tetap kita jaga. Kami hanya ingin lebih dekat dengan masyarakat. Jika kami kaku, kan tidak semua orang suka dengan militer yang tegas. Kita ingin berbaur makanya kami coba sebijak mungkin,” kata Wieko.
Oleh karena itu, lanjut Wieko, pihaknya sangat mengharamkan untuk merespons apa pun yang bersifat politik. Mereka berusaha sebijak mungkin untuk tidak menanggapi ataupun terpancing dalam isu yang bersifat politik.
Ini merupakan kebijakan yang sudah kuat sejak akun ini dibuat pada 6 Juni 2012. Tidak heran jika kemudian perusahaan riset Markplus menganugerahinya Marketeers Netizen Award. Kala itu, Markplus menyebut Akun TNI Angkatan Udara adalah lain daripada yang lain karena hadir di jagat media sosial dengan semangat horizontal, inklusif, dan sosial. “Tak jarang, akun ini jago dalam memainkan conversation yang hangat, ramah, sekaligus berisi,” tulis Markplus untuk @_TNIAU.
Selanjutnya: Jauhi Politik dan Sara
Jauhi Politik dan Sara
Salah satu yang membuat mereka mendapatkan penghargaan ini adalah karena evalusi yang berkelanjutan, mendapatkan arahan dari pimpinan termasuk verifikasi konten, serta menjauhkan isu-isu Politik maupun Sara (Suku, Agama, dan Ras). Bisa dibilang ini merupakan hal yang tidak mudah mengingat para Airmin tidak dibekali training khusus untuk berinteraksi di media sosial.
Para Airmin yang berjumlah sedikit itu diberi ruangan kecil untuk menjalankan aktivitas cyber-nya, termasuk mengomentari isu yang berkaitan dengan image TNI AU.
“Secara langsung menggiring opini publik, mungkin tidak. Memang ada mengarah ke sana, apalagi kalau memang pemberitaan itu berkaitan dengan nama baik TNI AU, personel ataupun kegiatannya, itu pasti. Saya rasa semua satuan akan melakukan hal itu,” ujar Wieko.