SOROT 404

Di Balik Akun @_TNIAU

Bersama Tuhan Kita Menyerbu Langit, salah satu gambar yang diunggah di akun twitter resmi TNI Angkatan Udara
Sumber :
  • VIVA.co.id/Twitter @_TNIAU

Menurut Wieko, memang tidak banyak anggota tim media sosial di TNI AU, jumlahnya hanya sekitar 5 sampai 7 orang, yang komposisinya bisa berubah-ubah. Artinya, Airmin-nya tidak tetap.

img_title Pengamat: Kita Terlalu 'Telanjang' di Media Sosial

Yang ditugaskan pun tidak sembarangan melainkan mereka yang sudah terbiasa berkutat di media sosial. Tidak selalu anak muda atau generasi milenial. Bahkan, kata Wieko, ada yang umurnya sudah 40 tahun lebih. Tidak heran jika kemudian isi cuitan @_TNIAU cukup mengena bagi segala umur, baik generasi milenial maupun baby boomers.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Kami berusaha untuk tetap ada batasannya. Gaul boleh tapi tidak menghilangkan karakter akun sebagai institusi militer. Ini yang tetap kita jaga. Kami hanya ingin lebih dekat dengan masyarakat. Jika kami kaku, kan tidak semua orang suka dengan militer yang tegas. Kita ingin berbaur makanya kami coba sebijak mungkin,” kata Wieko.

img_title Tulis Status di Twitter Boleh Panjang Mulai 19 September?

Oleh karena itu, lanjut Wieko, pihaknya sangat mengharamkan untuk merespons apa pun yang bersifat politik. Mereka berusaha sebijak mungkin untuk tidak menanggapi ataupun terpancing dalam isu yang bersifat politik.

Ini merupakan kebijakan yang sudah kuat sejak akun ini dibuat pada 6 Juni 2012. Tidak heran jika kemudian perusahaan riset Markplus menganugerahinya Marketeers Netizen Award. Kala itu, Markplus menyebut Akun TNI Angkatan Udara adalah lain daripada yang lain karena hadir di jagat media sosial dengan semangat horizontal, inklusif, dan sosial. “Tak jarang, akun ini jago dalam memainkan conversation yang hangat, ramah, sekaligus berisi,” tulis Markplus untuk @_TNIAU.

img_title Setetes Darah dari Dunia Maya

Selanjutnya: Jauhi Politik dan Sara

Jauhi Politik dan Sara

Salah satu yang membuat mereka mendapatkan penghargaan ini adalah karena evalusi yang berkelanjutan, mendapatkan arahan dari pimpinan termasuk verifikasi konten, serta menjauhkan isu-isu Politik maupun Sara (Suku, Agama, dan Ras). Bisa dibilang ini merupakan hal yang tidak mudah mengingat para Airmin tidak dibekali training khusus untuk berinteraksi di media sosial.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Para Airmin yang berjumlah sedikit itu diberi ruangan kecil untuk menjalankan aktivitas cyber-nya, termasuk mengomentari isu yang berkaitan dengan image TNI AU.

“Secara langsung menggiring opini publik, mungkin tidak. Memang ada mengarah ke sana, apalagi kalau memang pemberitaan itu berkaitan dengan nama baik TNI AU, personel ataupun kegiatannya, itu pasti. Saya rasa semua satuan akan melakukan hal itu,” ujar Wieko.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut