SOROT 406

Monster Pokemon Bikin Takut

Bermain Pokemon Go.
Sumber :
  • REUTERS/Toru Hanai

Namun, peneliti dari Badan Informasi Geospasial Indonesia, Prof. Fahmi Amhar mengatakan jika tudingan intelijen terhadap Pokemon Go itu harus dibuktikan terlebih dahulu sebelum pemerintah mengambil tindakan preventif melarang atau memblokir Pokemon Go. Setidaknya, kata dia, ada dua hal yang harus dibuktikan.

img_title Senin, Kominfo Diskusi Pokemon Go dengan Google

Pertama adalah terkait pengiriman gambar secara real time ke server. Kedua adalah penempatan objek/monster yang secara sengaja dan terfokus di tempat-tempat strategis atau objek vital.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Jika kedua hal ini benar, Pokemon Go bisa dianggap membahayakan. Namun kita bisa meminta kepada pengembang game itu untuk tidak menyebar monster di tempat-tempat penting dan dilarang. Tidak boleh di Istana atau Masjid. Sangat mengganggu lah itu,” ujar Fahmi.

img_title Cari Pokemon, Pria Ini Justru Bertemu Jodoh

Augmented Reality Berbasis LBS

Fahmi tidak menampik kemungkinan jika teknologi yang digunakan Pokemon Go bisa disusupi oleh Intelijen asing untuk mencuri data dan memetakan objek vital suatu negara. Game yang mengandalkan teknologi geospasial bernama Location Base System ini menggunakan platform Augmented Reality (AR) untuk menarik pengguna mencari monster.

img_title PP Pelti Buka Suara Usai Janice Tjen Absen di Asian Games 2026

Dengan menghitung koordinat lokasi yang ada, pengembang akan memunculkan monster-monster Pokemon secara acak, tidak melulu di satu tempat tertentu.

“Itu sebenarnya sama dengan kita pakai Google Maps. Misalnya kita ada di lokasi tertentu tiba-tiba dapat iklan hotel atau tempat makan tertentu. Itu karena kita mengaktifkan Google Maps. GPS-nya nyala. Bedanya, kalau LBS memunculkan SMS berbentuk teks, kalau Pokemon Go memunculkan monster digital untuk bermain,” kata Fahmi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jika semua orang menganggap teknologi yang digunakan Niantic, bekerja sama dengan Google dan Pokemon Company, sebagai platform AR, tidak demikian pendapat pakar. Profesor Komputer Sains dari New York University Media Research Lab, lebih suka menyebut Pokemon Go memiliki teknologi Location-Based Entertainment (hiburan berbasis lokasi).

Profesor yang telah berpengalaman berpuluh tahun dengan virtual reality (VR) dan AR ini menjelaskan lebih lanjut jika Pokemon Go hanya menyematkan sebuah gambar ke dalam tampilan yang ada di perangkat. Ini disebut sebagai hiburan berbasis lokasi dan tidak bisa dikatakan sebagai AR, yang arti sebenarnya adalah membuat otak percaya dengan penyatuan sebuah objek ke dalam situasi nyata.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut