- REUTERS/Toru Hanai
Namun, peneliti dari Badan Informasi Geospasial Indonesia, Prof. Fahmi Amhar mengatakan jika tudingan intelijen terhadap Pokemon Go itu harus dibuktikan terlebih dahulu sebelum pemerintah mengambil tindakan preventif melarang atau memblokir Pokemon Go. Setidaknya, kata dia, ada dua hal yang harus dibuktikan.
Pertama adalah terkait pengiriman gambar secara real time ke server. Kedua adalah penempatan objek/monster yang secara sengaja dan terfokus di tempat-tempat strategis atau objek vital.
“Jika kedua hal ini benar, Pokemon Go bisa dianggap membahayakan. Namun kita bisa meminta kepada pengembang game itu untuk tidak menyebar monster di tempat-tempat penting dan dilarang. Tidak boleh di Istana atau Masjid. Sangat mengganggu lah itu,” ujar Fahmi.
Augmented Reality Berbasis LBS
Fahmi tidak menampik kemungkinan jika teknologi yang digunakan Pokemon Go bisa disusupi oleh Intelijen asing untuk mencuri data dan memetakan objek vital suatu negara. Game yang mengandalkan teknologi geospasial bernama Location Base System ini menggunakan platform Augmented Reality (AR) untuk menarik pengguna mencari monster.
Dengan menghitung koordinat lokasi yang ada, pengembang akan memunculkan monster-monster Pokemon secara acak, tidak melulu di satu tempat tertentu.
“Itu sebenarnya sama dengan kita pakai Google Maps. Misalnya kita ada di lokasi tertentu tiba-tiba dapat iklan hotel atau tempat makan tertentu. Itu karena kita mengaktifkan Google Maps. GPS-nya nyala. Bedanya, kalau LBS memunculkan SMS berbentuk teks, kalau Pokemon Go memunculkan monster digital untuk bermain,” kata Fahmi.
Jika semua orang menganggap teknologi yang digunakan Niantic, bekerja sama dengan Google dan Pokemon Company, sebagai platform AR, tidak demikian pendapat pakar. Profesor Komputer Sains dari New York University Media Research Lab, lebih suka menyebut Pokemon Go memiliki teknologi Location-Based Entertainment (hiburan berbasis lokasi).
Profesor yang telah berpengalaman berpuluh tahun dengan virtual reality (VR) dan AR ini menjelaskan lebih lanjut jika Pokemon Go hanya menyematkan sebuah gambar ke dalam tampilan yang ada di perangkat. Ini disebut sebagai hiburan berbasis lokasi dan tidak bisa dikatakan sebagai AR, yang arti sebenarnya adalah membuat otak percaya dengan penyatuan sebuah objek ke dalam situasi nyata.