- VIVA.co.id/ Diza Liane Sahputri
Melawak juga butuh kecerdasan
Sejak pertama terbentuk, tahun 1973 hingga sekitar tahun 1996, kejayaan Warkop DKI seperti tak mengenal surut. Belasan kaset rekaman, 34 judul film, serta mengisi berbagai acara hingga sinetron di layar televisi terus mereka lakoni.
Indro menuturkan, kelanggengan Warkop bukan terjadi tiba-tiba. Sebagai jebolan perguruan tinggi, mereka senantiasa melakukan evaluasi, mengemas dan berusaha mengembangkan isi lawakan mereka.
“Kami bahkan pernah merumuskan soal profesionalitas. Hingga akhirnya kami sepakat, profesional adalah tanggung jawab. Berbekal profesional itulah kami melangkah,” tuturnya.
![]()
Warkop DKI
Profesionalitas yang mereka genggam itu juga termasuk mengemas materi lawakan. Indro mengaku, tak setiap saat mereka bisa mendapatkan materi lawakan.
Itulah sebabnya, mereka tak segan membeli materi. Salah satunya adalah meminta dibuatkan gambar secara khusus oleh kartunis Johny Hidayat.
“Ia buat tiga gambar, kami membayarnya, dan mengembangkan lawakan dari tiga gambar yang ia buat itu,” ujar Indro.
Pria yang kini sudah menginjak usia 59 tahun tersebut menilai bahwa konsep lawakan mereka sesungguhnya tak jauh berbeda dengan stand up comedy yang tengah naik daun saat ini. Seluruh celetukan dan lawakan yang mereka suguhkan benar-benar terkonsep.
“Karena melawak itu juga butuh kecerdasan. Butuh latihan dan kecerdasan,” ucap Indro menegaskan.
Indro menilai, eksisnya Warkop DKI hingga saat ini adalah buah kerja keras dan dukungan penggemar. “Saya tahu, sebenarnya agak sulit untuk bisa bertahan dalam kondisi saat ini. Tapi saya diuntungkan oleh penggemar yang demikian besar,” ujarnya.
Menurutnya, eksis hingga saat ini bukanlah hal yang ia rencanakan. Namun ia memilih berkomitmen pada Warkop.
“Jika komitmen saya bukan Warkop, maka sudah lama saya meninggalkan Warkop dan membentuk kelompok baru sendiri. Tapi komitmen saya adalah Warkop,” katanya.
Indro yang merupakan penggemar James Bond berharap Warkop DKI bisa bernasib sama seperti film tentang agen rahasia Inggris tersebut. Film James Bond terus berganti pemain, namun tetap eksis dan memiliki penggemar setia.
Ia ingin Warkop DKI seperti itu. Ia masih percaya, kesempatan itu ada. Sebab, menurutnya, bangsa ini adalah bangsa komedi, dan tercermin utuh dalam kehidupan sehari-hari.