Andi Mallarangeng

Inferno, Neraka di Bumi. Betulkah?

Andi Mallarangeng
Sumber :
Pengantar Redaksi:
img_title BNPB Minta Tambahan Dana Siap Pakai Rp 5,67 Triliun Buat Penanganan Bencana

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


img_title Tok! DPR Setujui Penjualan Kapal Eks KRI Ki Hajar Dewantara
Sejak berada dalam tahanan KPK, Andi Mallarangeng punya lebih banyak waktu luang. Sambil menunggu pengadilan, ia mencoba memanfaatkan waktunya secara produktif dengan membaca dan menulis. Aturan KPK tak membolehkan penggunaan laptop, iPad dan semacamnya oleh para tahanan. Andi menulis artikel ini dengan tulisan tangan, dan kemudian disalin kembali oleh Redaksi VIVAnews agar bisa dinikmati oleh pembaca. Andi berusaha menulis di rubrik “Analisis” sekali seminggu. Redaksi mengunggah tulisan baru Andi setiap hari Rabu.  
img_title 51 Persen Realisasi KUR 2026 Cair ke UMKM Perempuan


----

Thomas Malthus mungkin tersenyum dalam kuburnya kalau saja dia tahu bahwa tesisnya tentang “matematika populasi” menjadi isu utama sebuah novel dengan judul menarik, “Inferno” (2013). 

Bukan kacangan, novel ini adalah karya Dan Brown, penulis papan atas dalam daftar best-seller dunia. Di dalamnya ada sejarah keluarga Medici (patron kaum ilmuwan, sastrawan, dan pelukis besar Abad Pencerahan Eropa seperti Sandro Botticelli dan Michelangelo), cerita tentang petualangan Profesor Harvard Robert Langdon yang dilengkapi dengan aksi-aksi mendebarkan, dan tentu saja seorang wanita cantik. Alur ceritanya menjadi lebih menarik lagi ketika isu ledakan penduduk dan cara mengatasinya dirangkai dengan jeli dan cukup terinci, dibarengi dengan teka-teki yang bersumber dari sebuah puisi epik, “The Divine Comedy”, karya sastrawan Italia terdepan abad ke-14, Dante Alighieri.

Dengan pengetahuan mendalam tentang sejarah Abad Pencerahan, dengan teknik bercerita yang piawai lewat singkapan peristiwa yang mendebarkan dan selalu mengundang rasa penasaran, Dan Brown berhasil menelurkan sebuah karya menarik, enak dibaca, serta memperkaya imajinasi kehidupan kita.   

Saya tidak ingin meresensi buku ini, sebab mungkin sudah banyak yang melakukannya. Tetapi isu sentral di dalamnya, yaitu kemungkinan ledakan penduduk dunia, terlalu menarik dan kontroversial untuk dilewatkan begitu saja tanpa pembahasan yang sedikit serius. Kemungkinan terjadinya eksplosi populasi inilah yang dianggap sebagai neraka, inferno, oleh Profesor Bertrand Zobrist, aktor protagonis, sosok ilmuwan jenius dan kaya raya dalam novel ini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


Tentu saja, buku ini adalah sebuah karya fiksi. Namun justru karena itu ia menarik sebagai sebuah pintu masuk untuk membahas sebuah persoalan dunia yang memang sangat penting. Isu sosial dan konsep-konsep besar yang dimasukkan dalam alur fiksi memudahkan penyampaian pesan dan problematika yang ada di dalamnya menjadi lebih gampang dicerna serta mudah melekat di benak pembaca. Apalagi, pembaca fiksi jauh lebih banyak ketimbang pembaca buku ilmiah.
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut