Kemerdekaan

Kolase Foto - Wapemred tvonenews.com Ecep S Yasa, background logo titik nol nusantara.
Sumber :
  • tim tvonenews

Soeharto pernah menyebut Indonesia akan terbang tinggi setelah repelita ke-6 (sekitar tahun 2000), pendapatan perkapita rakyat akan sama dengan negara kaya, sehingga rakyat diminta bersiap untuk menggelar pesta Olimpiade. 

img_title Evolusi Industri Otomotif: Dari Mesin Uap hingga Era Kendaraan Listrik dan Otonom

Untuk “mimpi” besar itu, Habibie, salah satu menterinya yang paling cerdas diminta mewujudkan pesawat penumpang canggih. Sudwikatmono, salah satu kerabatnya diminta membangun menara tertinggi di dunia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tak hanya presiden yang akrab dengan pasar bebas, Soekarno dari spektrum yang berbeda, sosialis, juga punya sejarah yang sama. 

img_title Persisten Lama

(Pembangunan Monumen Nasional oleh Sarwoko Martokoesoemo dan Presiden Sukarno pada tahun 1950-an. Sumber: ist)

img_title Sekolah Baru untuk Republik

Untuk menggertak PBB, Soekarno memerintahkan digelar event besar skala dunia, “Games of the New Emerging Forces” atau Ganefo. Dan, untuk mensukseskan acara olahraga  itu ia tak hanya perlu sebuah stadion GBK ---yang dibangun bersama insinyur insinyur Rusia, tapi juga Hotel Indonesia dan bangunan pusat belanja tertinggi di Indonesia saat itu: Sarinah. 

Kekuasaan yang ingin pengakuan cepat dan kasat mata selalu butuh membangun monumen. Maka untuk menyambut tamu negara dibangun Monumen Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia. Tak cukup hanya satu, secara bersama dibangun pula Monumen Nasional yang tinggi megah berlapis marmer di puncaknya diselimuti emas.

Soekarno dan Soeharto kala itu percaya, setiap capaian bangsa butuh biaya dan pengorbanan. Dan bagian terbesar pengorbanan itu harus ditanggung oleh rakyat sebagai bagian dari mobilisasi pembangunan, toh dari sana nantinya akan lahir bangsa yang produktif, pertumbuhan ekonomi melesat dan segala hal akan terpenuhi.

Tapi hari ini kita tahu harapan itu masih jadi harapan. Rakyat saat ini masih seperti burung pungguk yang hinggap di dahan sambil merindukan  rembulan. Dan ramalan tentang “tinggal landas”, masyarakat adil dan makmur, negeri gemah ripah loh jinawi masih tetap jauh di langit tinggi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Demikian, bagi saya, refleksi kemerdekaan hari ini adalah betapa sunyinya keadilan bagi korban korban pembangunan infrastruktur di sekujur republik. 

Padahal, keadilan adalah hukum Tuhan, sunnatullah yang berlaku untuk semua. Tak sedikit peradaban yang pernah ada di muka bumi, hancur hanya karena abai pada aspek keadilan. Sebagai hukum alam, keadilan memang berlaku untuk semua, seperti api yang panas saat disentuh, dirasakan oleh siapa saja.  

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut