Memahami Politik, Memahami Sepak Bola

Pojok KC, Memahami Politik, Memahami Sepak Bola
Sumber :
  • tim tvonenews

DI ANTARA sejumlah krisis yang melanda Indonesia belakangan kita patut bersyukur masih memiliki hiburan kolektif: Timnas Indonesia. 

img_title Persisten Lama

Rupiah merosot, ada wacana sensor pada konten industri penyiaran, bayangan Dwifungsi TNI yang coba dihidupkan lagi lewat RUU TNI Polri, pemberantasan korupsi yang jalan di tempat karena komisioner KPK justru saling berkelahi dengan sesama koleganya, krisis lingkungan dan perubahan iklim yang kian nyata karena obral izin usaha pertambangan, seperti sejenak teralihkan ketika melihat Rizky Ridho dan kawan kawan berlaga di lapangan rumput, pekan lalu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Seorang teman usai Timnas Indonesia mengalahkan Timnas Filipina dalam kualifikasi Piala Dunia 2026 mengirim pesan singkat, “Ternyata begini rasanya memiliki timnas sepak bola. Kita sejenak lupa pada masalah masalah bangsa.” Saya hanya menjawab pendek, ”Apalagi jika timnas kita berlaga di Piala Dunia 2026, Bro.”

img_title Sekolah Baru untuk Republik

Saya memang tidak sedang basa basi. Saya melihat langsung kegembiraan bersama itu di Stadion Gelora Bung Karno, beberapa meter saja dari kursi duduk Presiden Jokowi, sepanjang laga kualifikasi Piala Dunia 2026.

img_title Cape Town Marathon

Saat itu seluruh warga seperti diikat imajinasi bersama tentang keindonesiaan. Dari mulai rakyat jelata hingga presiden bersorak sorai ketika dua gol bersarang ke gawang Filipina sekaligus menandai sejarah Indonesia melaju ke babak ketiga kualifikasi Piala Dunia untuk pertama kalinya setelah kemerdekaan.

Kemenangan yang tak hanya menghidupkan kembali asa Timnas Indonesia tetap berada di zona Piala Dunia, tetapi juga bisa berlaga di Piala Asia 2027 di Arab Saudi tanpa ikut kualifikasi.

Yang paling penting adalah kemenangan itu merawat mimpi kita berlaga di Piala Dunia. 

Dalam sejarah sepak bola, Indonesia memang pernah jadi wakil benua Asia satu satunya dan pertama kalinya di ajang tertinggi kompetisi sepak bola antarnegara itu. 

Namun, itu terjadi pada 1938 ketika Indonesia masih dalam penjajahan Belanda. Dan saat itu kita meraihnya tak melalui babak kualifikasi seperti saat ini. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dunia saat itu tidak sedang tidak baik baik saja. Perang masih berkecamuk di Eropa, banyak negeri negeri kuat dalam sepak  bola, seperti Inggris, Spanyol, Italia, Austria absen dengan alasan kecamuk perang.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut