ASEAN Summit dan  Keresahan Oppenheimer

Pemred tvonenews Ecep S Yasa, insert AMM ke-58, di Kuala Lumpur, Malaysia
Sumber :
  • tim tvonenews

Andai saja pemimpin kedua negara itu tergoda menggunakan sebagian kecil dari nuklirnya, dampaknya menjadi bencana tak hanya bagi Delhi, Mumbai, Lahore, dan Karachi yang berpenduduk padat, tapi juga dapat memicu "musim dingin nuklir regional." Abu dan jelaga dari kebakaran kota-kota yang hancur akan naik ke atmosfer, menghalangi sinar matahari, menyebabkan penurunan suhu global, mengganggu pola cuaca, dan menghancurkan pertanian di seluruh dunia, yang berujung pada kelaparan global yang masif.

img_title China’s Expanding Footprint Puts ASEAN Centrality in the Spotlight

Kita bersyukur ada di kawasan geopolitik yang jauh dari konflik semacam itu. Meskipun tidak ada negara di Asia Tenggara yang menjadi target langsung bom atom, ASEAN saya kira ikut merasakan dampak mengerikan dari Perang Dunia II. Ini menciptakan ingatan kolektif tentang kekuatan destruktif senjata nuklir. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

ASEAN kita tahu sampai saat ini cukup konsisten. Sejak pembentukan ASEAN, negara anggota tetap patuh pada deklarasi ZOPFAN (Zone of Peace, Freedom and Neutrality) yang dicetuskan 1971. Ada komitmen kuat dari pemimpin bangsa di ASEAN untuk menjauhkan Asia Tenggara dari persaingan kekuatan besar dan ancaman senjata pemusnah massal.

img_title Mahathir Desak PM Anwar Batalkan Undang Trump: Dia Tidak Diterima di Malaysia

ASEAN juga memiliki Traktat Bangkok (SEANWFZ), ditandatangani pada 1995, yang jadi bukti nyata dari tekad kolektif regional untuk tidak memiliki, memproduksi, atau mengizinkan penempatan senjata nuklir di wilayah ASEAN. Saya kira ini ini menciptakan rasa aman kolektif dan menunjukkan keinginan kuat untuk menjadi kawasan yang stabil dan damai. 

{{imageId:354970}}

img_title Menlu Sugiono Minta Dunia Bebas dari Senjata Nuklir, Ini Alasannya

Negara-negara ASEAN, terutama Indonesia dan Malaysia, secara konsisten juga menyerukan perlucutan senjata nuklir di tingkat global dan forum internasional seperti PBB, menunjukkan ingatan kolektif tentang bahaya nuklir tetap menjadi pemersatu kawasan.

Saya kira ingatan kolektif ini yang harus terus menerus dihidupkan pada pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN dan pertemuan Treaty of Southeast Asia Nuclear Weapon-Free Zone (SEANWFZ) yang pekan ini sedang digelar di Malaysia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebagai kawasan yang jadi sebuah kesatuan, ASEAN membutuhkan kestabilan ekonomi dan politik, itu hanya bisa dicapai ketika masing masing anggotanya menghindari perlombaan mengembangkan persenjataan nuklir. 

Hanya yang perlu dibahas adalah bagaimana jika masing masing negara ingin menggunakan nuklir untuk kepentingan sumber energi alternatif dan untuk tujuan damai? Kita tahu Asia Tenggara diproyeksikan akan mengalami peningkatan permintaan energi yang signifikan, bahkan hingga lebih dari 60% pada tahun 2040. Energi nuklir menawarkan sumber pasokan listrik yang stabil dan berkapasitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan ini. Selain itu, energi nuklir tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca selama operasi, menjadikannya pilihan menarik untuk transisi energi bersih. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut