China Pangkas Insentif Mobil Listrik
- CNC
Beijing, VIVA – Industri kendaraan listrik China mulai memasuki fase baru setelah pemerintah mengurangi sejumlah insentif yang selama bertahun-tahun membantu mendorong penjualan kendaraan energi baru. Kebijakan ini menjadi ujian bagi produsen mobil listrik di negara tersebut yang kini sudah memiliki skala produksi dan pasar jauh lebih besar dibandingkan satu dekade lalu.
Salah satu perubahan penting terjadi pada insentif pajak pembelian kendaraan energi baru. Untuk kendaraan yang dibeli sepanjang 2024-2025, pemerintah memberikan pembebasan pajak pembelian dengan batas pengurangan maksimal 30.000 yuan, sedangkan pada 2026-2027 kebijakan berubah menjadi potongan 50 persen dengan nilai maksimal 15.000 yuan untuk setiap mobil penumpang energi baru.
Artinya, konsumen China masih mendapatkan keringanan, tetapi nilainya tidak lagi sebesar periode sebelumnya. Pemerintah secara bertahap mengurangi ketergantungan industri terhadap insentif fiskal setelah kendaraan energi baru berkembang menjadi bagian besar dari pasar otomotif domestik.
Disadur VIVA Otomotif dari CNC, Jumat 4 September 2026, pengurangan insentif tersebut datang ketika pasar EV China sebenarnya sudah berada pada skala yang sangat besar. International Energy Agency mencatat penjualan mobil listrik di China mencapai lebih dari 13 juta unit pada 2025, atau sekitar enam dari setiap 10 mobil listrik yang terjual di seluruh dunia.
Pertumbuhan itu juga membuat keunggulan harga kendaraan listrik China tidak sepenuhnya bergantung pada subsidi. IEA mencatat hampir 70 persen mobil listrik berbasis baterai yang terjual di China pada 2025 sudah memiliki harga lebih rendah dibandingkan mobil bermesin pembakaran dengan kelas yang setara, bahkan sebelum insentif pemerintah diperhitungkan.
Kondisi tersebut membuat pengurangan insentif menjadi menarik untuk diamati. Produsen seperti BYD, Geely, Nio, Xpeng dan sejumlah merek lain kini harus semakin mengandalkan efisiensi produksi, teknologi baterai, skala manufaktur, serta strategi harga untuk mempertahankan konsumen.
Namun, tantangannya bukan hanya menjaga penjualan. Industri otomotif China juga menghadapi persoalan persaingan harga dan kelebihan kapasitas produksi yang kemudian mendorong banyak produsen mencari pertumbuhan di pasar luar negeri.
Tekanan tersebut bahkan membuat pemerintah China mulai memperketat perhatian terhadap ekspansi produsen otomotif ke luar negeri. Pada September 2026, regulator China menerbitkan pedoman yang antara lain meminta produsen menjaga strategi harga berdasarkan biaya dan kondisi pasar serta menghindari praktik yang dapat mengganggu persaingan.