Warisan Kekal NH Dini
- VIVAnews/Muhamad Solihin
Sejak usia muda hingga akhir usia Dini terus menelurkan karya. Maret tahun ini, penerbit Media Pressido Yogyakarta menerbitkan novel Dini bertajuk "Gunung Ungaran: Lerep di Lerengnya, Banyumanik di Kakinya." Novel itu menjadi karya terakhir Dini, cerita tentang keindahan Ungaran ia sampaikan sebagai kenangan.Â
Karya NH Dini memiliki ciri khas karena didominasi perempuan sebagai tokoh utama. Perempuan yang berani menabrak tradisi, menceritakan hal-hal yang tabu tentang perselingkuhan, perlawanan, dan seksualitas secara apa adanya.
Dr. Wiyatmi M.Hum, dosen sastra dari Universitas Negeri Yogyakarta menuturkan, di tahun 1970-an, karya-karya NH Dini termasuk berani. Menurut Wiyatmi, Dini bukan penulis perempuan pertama yang menabrak dominasi patriarki melalui tulisannya. Sebab ada Hamidah di tahun 1930-an yang sudah lebih dulu menuliskan isu yang sama.Â
"Namun NH Dini adalah penulis produktif yang tak henti berkarya, sementara penulis perempuan lain hanya satu dua karya dan setelah itu menghilang. Sedangkan NH Dini terus mengeluarkan karya-karyanya," ujar Wiyatmi kepada VIVA, Rabu, 5 Desember 2018.
Dini, ujar Wiyatmi, adalah penulis dengan genre autobiografi. "Kebanyakan isi tulisannya adalah bercerita tentang diri sendiri. Ia menggambarkan subyektivitas perempuan dalam kondisi yang relevan. Ia bercerita bagaimana relasi perempuan dengan laki-laki, dengan suami, dengan pria asing, tentang seksualitas. Untuk kultur patriarki, apa yang disampaikan Dini tergolong berani," ujarnya menambahkan.
Sejak tahun 1970-an Dini konsisten dengan sikapnya. Novel NH Dini yang terkenal, "Pada Sebuah Kapal," menggambarkan bagaimana pemberontakan seorang perempuan yang sering diabaikan oleh suaminya. Pemberontakan dalam diam, pemberontakan melalui gemulai tarian, dan pemberontakan yang memunculkan keberanian untuk melawan.
Banyak cerita lain tentang perlawanan perempuan dan keinginan untuk mendobrak kultur patriarki yang dominan di berbagai novel yang ia tulis. Bukan hanya tentang negeri ini, tapi juga tentang  negara-negara yang pernah ia singgahi, Jepang, Prancis, dan Belanda adalah negara yang kerap menjadi latar belakang kisah dalam novel-novelnya.Â
Ketua Lesbumi Nahdhatul Ulama Jawa Tengah, Lukni Maulana menyampaikan karya NH Dini bukanlah penciptaan simbolis. Namun sebuah cara untuk berhubungan dengan alam dan seisinya. Lukni juga mengakui Dini adalah seorang penulis yang mampu bercerita dengan detail dan tangguh.Â