Heboh Fatwa Haram PUBG
- Twitter/@AcehMpu
Menurutnya, langkah yang lebih pas yakni pengendalian bermain gim online seperti PUBG. Memang butuh pengendalian diri dan kesadaran diri untuk tidak terlalu terforsir main PUBG. Sepanjang gamer mampu mengendalikan diri dan tidak berlebihan bermain, gim apa pun termasuk PUBG, tidak menjadi masalah. Dalam hal pengguna anak-anak, kata Rolly, peran orang tua sangat penting.Â
"Yang perlu ditekankan itu kendali dari parental, bukan fatwa haramnya. Kalau fatwa haram itu sih ekstrem sekali," ujar Rolly kepada VIVA, Jumat, 22 Maret 2019.
Dalam pertemuan MUI pusat membahas fatwa PUBGÂ pada Maret lalu, hadirin peserta rapat menekankan perlunya pembatasan bermain gim dari aspek usia, konten, waktu dan dampak yang ditimbulkan.Â
Soal pembatasan bermain gim, Indonesia sudah memiliki sistem yang dinamakan Indonesia Game Rating System, yang diatur dalam Permen Kominfo No 11 Tahun 2016 tentang Klasifikasi Permainan Interaktif Elektronik.
Semua peserta rapat sepakat untuk menggalakkan aturan ini dengan harapan orang yang bermain game bisa tertib. Namun demikian, Dirjen Aplikasi Informatika Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan, bila dipandang perlu perubahan pada IGRS maka Kominfo terbuka untuk menyambutnya.Â
Presiden Indonesia E-Sport Association, Eddy Lim mengatakan, setiap pengembang memiliki aturan pembatasan waktu bermain, namun belum disosialisasikan lebih jauh.Â
Pembatasan waktu bermain gim diyakini tidak mematikan gim, namun mengurangi benefit permainan setelah melewati waktu pembatasan tersebut.Â
"Sebenarnya sosialisasinya agak kurang. Kalau kita main gim seperti PUBG itu disarankan 2-3 jam. Waktu kita main 2-3 jam itu kita dapat banyak benefit. Setelah lebih jadi buang waktu karena tidak dapat apa-apa lagi," kata dia.
![]()
Gim bukan penyebab kekerasan
Rata-rata dalih pewaris nabi mengharamkan PUBG adalah kekhawatiran gim ini melahirkan perilaku agresif dan kekerasan. Namun dalih itu tak mutlak sepenuhnya. Berbagai riset menunjukkan, video gim bukan penyebab kekerasan pada remaja.Â
Riset ilmuwan Amerika Serikat, Whitney DeCamp dan Christoper J. Ferguson menunjukkan
justru keluarga dan lingkungan sosial yang menjadi faktor lebih berpengaruh membentuk perilaku kekerasan seseorang.
Dalam riset mereka, kedua peneliti itu melibatkan 9 ribu anak-anak kelas VIII dan IX yang berasal dari berbagai lapisan sosial di Amerika Serikat. Peneliti itu merekam intensitas responden bermain video gim yang keras, dan mengamati bagaimana hubungan responden dengan orang tua. Riset itu juga sekalian mengukur kekerasan dalam keluarga dan informasi demografik misalnya gender, tingkat ekonomi keluarga dan etnis.Â