Mengintip 'Saudara Tua' Bumi, Semoga Layak Huni
Sabtu, 25 Juli 2015 - 00:16 WIB
Sumber :
- NASA
VIVA.co.id
- Film-film fiksi ilmiah (sci-fi) seperti "Star Trek" atau "Battlestar Galactica" tampak bukan sepenuhnya khayalan. Adanya kehidupan lain di luar Bumi, seperti yang ditampilkan pada film-film tersebut, bisa jadi benar adanya dan hipotesis para ilmuwan makin mendekati kenyataan.
Upaya keras bertahun-tahun dari para astronom maupun ilmuwan yang sangat berminat pada studi antariksa, mengenai dugaan adanya planet-planet yang menawarkan kehidupan mirip Bumi, perlahan-lahan mulai menampakkan hasil. Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pekan ini mengumumkan bahwa teleskop antariksa Kepler telah menemukan satu planet, yang mengorbit bintang dengan jarak sama seperti orbit bumi ke matahari.
Pada pernyataan resmi NASA yang dikutip laman New York Post pada Jumat, 24 Juli 2015, planet baru yang diberi nama Kepler 452b itu berusia 1,5 miliar tahun lebih tua dari bumi.
'Saudara tua' bumi itu memiliki ukuran 1,5 kali lebih besar dari bumi, mengorbit bintangnya dalam waktu 385 hari. Sementara bintang yang dikelilinginya, empat persen lebih masif dan 10 persen lebih terang daripada matahari.
NASA mengatakan jarak orbit planet yang mereka sebut Earth 2.0 itu, berada pada kejauhan optimal di mana air dapat terbentuk. Nasa menyebutnya 'Goldilocks zone' atau zona yang dapat menyangga kehidupan.
Beragam komentar muncul di media sosial dari netizen, yang menanggapi secara antusias pengumuman NASA, baik bernada negatif maupun positif. Salah satunya adalah netizen bernama Brian Cox.
"Jaraknya sangat jauh, 1.400 tahun cahaya, apa yang mungkin dapat kita pelajari atau lakukan? Maksud saya, lihatlah Pluto sebagai contoh, yang kita kira telah diketahui ukurannya. Tapi ternyata itu jauh lebih besar dari yang diperkirakan."
Brian mempertanyakan, bagaimana NASA dapat menyebut planet itu serupa bumi, apabila mereka pun belum dapat memastikan kondisi planet, yang letaknya jauh lebih dekat dengan bumi.
Misi Kepler dan K2
Teleskop Kepler adalah alat pengamatan antariksa, yang diluncurkan oleh NASA pada 7 Maret 2009, untuk menemukan planet serupa bumi yang mengorbit bintang, dalam misi yang disebut K2.
Pesawat antariksa yang namanya diambil dari astronom Johannes Kepler, disebut sebagai bagian dari program pencarian NASA berbiaya murah, dengan biaya 'hanya' $600 juta atau sekitar Rp 13,5 miliar.
Upaya keras bertahun-tahun dari para astronom maupun ilmuwan yang sangat berminat pada studi antariksa, mengenai dugaan adanya planet-planet yang menawarkan kehidupan mirip Bumi, perlahan-lahan mulai menampakkan hasil. Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pekan ini mengumumkan bahwa teleskop antariksa Kepler telah menemukan satu planet, yang mengorbit bintang dengan jarak sama seperti orbit bumi ke matahari.
Pada pernyataan resmi NASA yang dikutip laman New York Post pada Jumat, 24 Juli 2015, planet baru yang diberi nama Kepler 452b itu berusia 1,5 miliar tahun lebih tua dari bumi.
'Saudara tua' bumi itu memiliki ukuran 1,5 kali lebih besar dari bumi, mengorbit bintangnya dalam waktu 385 hari. Sementara bintang yang dikelilinginya, empat persen lebih masif dan 10 persen lebih terang daripada matahari.
NASA mengatakan jarak orbit planet yang mereka sebut Earth 2.0 itu, berada pada kejauhan optimal di mana air dapat terbentuk. Nasa menyebutnya 'Goldilocks zone' atau zona yang dapat menyangga kehidupan.
Beragam komentar muncul di media sosial dari netizen, yang menanggapi secara antusias pengumuman NASA, baik bernada negatif maupun positif. Salah satunya adalah netizen bernama Brian Cox.
"Jaraknya sangat jauh, 1.400 tahun cahaya, apa yang mungkin dapat kita pelajari atau lakukan? Maksud saya, lihatlah Pluto sebagai contoh, yang kita kira telah diketahui ukurannya. Tapi ternyata itu jauh lebih besar dari yang diperkirakan."
Brian mempertanyakan, bagaimana NASA dapat menyebut planet itu serupa bumi, apabila mereka pun belum dapat memastikan kondisi planet, yang letaknya jauh lebih dekat dengan bumi.
Misi Kepler dan K2
Teleskop Kepler adalah alat pengamatan antariksa, yang diluncurkan oleh NASA pada 7 Maret 2009, untuk menemukan planet serupa bumi yang mengorbit bintang, dalam misi yang disebut K2.
Pesawat antariksa yang namanya diambil dari astronom Johannes Kepler, disebut sebagai bagian dari program pencarian NASA berbiaya murah, dengan biaya 'hanya' $600 juta atau sekitar Rp 13,5 miliar.
Halaman Selanjutnya