Kabar Buruk dari Panasonic dan Toshiba
Kamis, 4 Februari 2016 - 06:21 WIB
Sumber :
- wikimedia.org
Â
Menunggu keberpihakan pemerintah
Â
Ketika perekonomian harus menghadapi gelombang PHK, dampaknya bukan hanya dari segi ekonomi, melainkan sosial, politik, dan keamanan. Penurunan produksi juga berakibat pada pelambatan laju pertumbuhan.Â
Â
Penurunan produksi akan langsung berakibat pada pendayagunaan pekerja. Perusahaan tak mungkin menggaji karyawan yang menganggur, apalagi yang berstatus pekerja harian lepas.
Â
Ekonom Indef Ahmad Heri Firdaus menyebut, tutupnya pabrik elektronik Panasonic dan Toshiba di Indonesia tidak terlepas dari impact perlambatan ekonomi global. Tidak hanya industri elektronik yang mulai meredup, namun sektor industri lainnya juga tengah melesu.
Â
Menurut dia, diperlukan peran pemerintah untuk mengantisipasi ledakan PHK secara masal. Pemerintah perlu berpihak kepada sektor-sektor yang saat ini sedang meredup akibat gejolak ekonomi global.
Â
"Pemerintah harus memberikan apakah fasilitasi sektor industri agar bisa berkembang yang masih potensial harus di dukung supaya ngga  kena dampak negatif perlambatan ekonomi," ujarnya saat dihubungi oleh VIVA.co.id, Rabu, 3 Februari 2016.
Â
Heri mengatakan, paket-paket kebijakan harus memfokuskan dalam mendorong industri yang rentan tersenggol oleh pelemahan ekonomi global. "Pemerintah bisa melakukan kebijakan fiskal dan nonfiskal terkait regulasi yang memihak industri yang sedang tertekan," ujarnya.Â
Â
Sementara, dari sisi perusahaan, Heri menambahkan, di sektor industri seperti sektor minyak dan gas yang saat ini terus merosot, harus memperhatikan kesejahteraan karyawan seperti kompensasi Jamsostek atau BPJS ketenagakerjaan.
Â
Memang semua itu ada batasnya, karena dalam banyak kasus, PHK justru harus dilakukan demi menyelamatkan kapal yang lebih besar. Dan agar perusahaan tidak malah tutup karena tak mampu lagi menanggung beban kerugian.
Â
Jual Unit Bisnis Peralatan Medis, Saham Toshiba Melonjak
Sebelumnya, karena skandal akuntansi, harga saham Toshiba anjlok 40%.
VIVA.co.id
18 Maret 2016