Menguak Aborsi Online di Ibu Kota
- Irwandi Arsyad - VIVA.co.id
Bukan yang perdana
Pengungkapan kasus aborsi itu bukan yang perdana di Jakarta. Setidaknya, pada 16 Juni 2012, aparat gabungan Kepolisian Resor (Polres) Metro Jakarta Pusat dan Kepolisian Sektor (Polsek) Senen menggerebek sebuah rumah yang diduga dijadikan tempat praktik aborsi.
Dari lokasi penyergapan di Jalan Kramat 4 Nomor 21, Senen, Jakarta Pusat itu, polisi menyita beberapa peralatan medis. Petugas pun membekuk asisten dokter beserta sembilan karyawannya dari tempat tersebut.
Tak hanya di ibu kota. Kasus aborsi juga terkuak di daerah lain di Tanah Air. Di Cilacap, Jawa Tengah misalnya, terkuak praktik aborsi yang diduga dilakukan seorang dokter berinisial RD.
Praktik itu diduga dilakukan sejak 1991. Hingga Maret 2012, jumlah pasien yang datang tercatat telah mencapai lebih dari 24 ribu orang.
Dari hasil pengeledahan, polisi menemukan buku daftar pasien dokter RD, mulai Januari 2011 hingga Maret 2012. Dalam rentang waktu tersebut, dokter itu telah melakukan aborsi sebanyak 2.927 kali.
Sejumlah kasus itu menunjukkan masih banyaknya tindakan aborsi di negeri ini. Tercatat, sebanyak 2,3 juta abortus tidak aman diperkirakan terjadi setiap tahun di Indonesia.
“Sebanyak 1 juta keguguran spontan, 700 ribu karena kehamilan tidak diinginkan, dan 600 ribu karena kegagalan KB,” ujar Kepala Komite Ahli Kesehatan Reproduksi Roy Tjiong, Rabu, 24 Maret 2010.
Adapun berdasarkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2010, sebanyak 2 juta remaja telah melakukan aborsi.
Dari hasil penelitian, Roy menyebutkan, 15 persen aborsi dilakukan oleh kelompok usia remaja kurang dari 20 tahun. Rata-rata kehamilan yang menjalani aborsi atau digugurkan adalah kehamilan tanpa alat kontrasepsi. “Risiko kematian pada kehamilan remaja dua kali lebih tinggi," ujarnya.