Mencari Solusi Berantas Terorisme di Perbatasan

KRI Slamet Riyadi dalam sebuah aktivitasnya.
Sumber :
  • Dinas Penerangan Koarmatim

VIVA.co.id – Pertemuan tiga Menteri Luar Negeri dan Panglima Angkatan Bersenjata dari tiga Negara (trilateral), yaitu Indonesia, Filipina, dan Malaysia, memiliki makna khusus.

img_title Kaleidoskop 2021: Lonjakan COVID-19, KRI Nanggala hingga Herry Cabul

Sebab, pertemuan ini terjadi usai penyerahan 10 anak buah kapal berkewarganegaraan Indonesia (ABK WNI) dari tangan kelompok militan Abu Sayyaf ke Pemerintah Indonesia, melalui perantara Pemerintah Daerah Sulu dan Filipina.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, pertemuan akan membahas situasi keamanan di kawasan sekitar. Sebagai inisiasi, Indonesia berusaha mencari jalan keluar yang terbaik buat negara dalam mengatasi berbagai ancaman yang ada, mengingat kawasan ini jalur penting untuk perdagangan sehingga demi kepentingan bersama tiga negara.

img_title Ternyata TNI Ikut Terlibat Selamatkan 4 WNI yang Diculik Abu Sayyaf

Menurut pengamat hubungan internasional, Emil Radiansyah, keterlibatan Malaysia dalam pertemuan ini lantaran memiliki sejumlah kaitan.

Pertama, warga negaranya yang berprofesi sebagai ABK juga ikut menjadi korban penculikan kelompok Abu Sayyaf, selain empat WNI. Kedua, wilayah penculikan empat WNI terjadi di perairan Malaysia.

img_title Anggota DPR Respons Penyelamatan 3 WNI yang Diculik Abu Sayyaf

Ketiga, ungkap Emil, Malaysia memiliki pengalaman pahit dengan kelompok militan yang berdiri pada 1991 itu. Seperti diketahui, pada 2000, kelompok Abu Sayyaf menculik 21 sandera, yang 10 di antaranya para wisatawan dari Eropa dan Timur Tengah, sedangkan 11 adalah pekerja resort Malaysia.

Semua sandera kemudian diselamatkan oleh pasukan keamanan Filipina di Jolo, Sulu. Kemudian, empat tahun berikutnya, dua warga Serawak dan seorang warga Indonesia diculik oleh kelompok berbasis Abu Sayyaf.

"Indonesia, Filipina, dan Malaysia sangat menyadari pentingnya penguatan kerja sama, khusus sektor maritim. Jadi, pertemuan besok (hari ini) menurut saya mencoba untuk saling berkoordinasi dan bekerja sama memberantas terorisme di perbatasan," ungkap Emil kepada VIVA.co.id, Rabu, 4 Mei 2016.

Prinsip Noninterference

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia juga memperkirakan bahwa konsep keamanan di perairan ini akan sama dengan kerja sama mengamankan Selat Malaka, yang merupakan jalur pelayaran terpenting dan tersibuk di dunia, seperti halnya Terusan Suez dan Panama

Lebih dari 50 ribu kapal per tahun melintasi Selat Malaka, yang mengangkut hampir seperlima perdagangan laut dunia. Indonesia, Malaysia, dan Singapura, pada Juli 2004, telah menyepakati pengamanan Selat Malaka dengan konsep "patroli terkoordinasi", dan bukan "patroli bersama".

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut