Britain Exit dan Efek Dominonya
- Reuters/Neil Hall
"Sentimen Brexit lebih banyak pengaruhnya pada kondisi perekonomian di zona Eropa. Ini langsung bersentuhan dengan mata uang Inggris, poundsterling yang melemah dan penguatan euro," ungkapnya.
Sementara, Kementerian Keuangan Inggris belum lama ini mengatakan jika Brexit terjadi maka setiap rumah tangga akan menanggung beban setara 4.300 poundsterling dan Bank Sentral Inggris (Bank of England) juga menyebut bakal terjadi resesi ekonomi.
Sedangkan, pendukung Brexit mengklaim ongkos tetap bergabung dengan Uni Eropa memakan biaya sebesar 350 juta poundsterling tiap pekan, atau hampir 20 miliar poundsterling setiap tahunnya.
Banyu juga mengungkapkan, dari sektor perdagangan, ke luarnya Inggris akan mengganggu kerja sama perdagangan. Sebab, sebagai negara dengan ekonomi terbesar kedua di Eropa, membuat blok itu membutuhkan pasar Inggris.
"Khususnya soal tarif barrier maupun nontarif barrier. Tapi menurut saya, dampaknya akan lebih besar ke nontarif barrier. Ini menjelaskan kenapa bergabung dengan Uni Eropa bisa meningkatkan ekspor Inggris," ujar dia.
![]()
Uni Eropa runtuh?
Dari aspek politik. Doktor lulusan Flinders University, Adelaide, Australia itu menjabarkan, AS akan lebih merasakan dampaknya ketimbang ekonomi. Karena akan mengubah alur politik luar negeri Paman Sam.
Adalah keanggotaan Inggris di NATO akan menjadi "duri dalam daging". Pasalnya, kata Banyu, bakal terjadi gesekan kepentingan yang merembet ke semua sektor.
"Saya melihat keberpihakan Amerika akan terbelah. NATO dan Inggris. Tak hanya politik tapi gesekan akan menular ke sektor keamanan dan ekonomi juga," paparnya.
Ia pun secara tegas mendukung remain atau Inggris agar tetap berada di Uni Eropa untuk menghindari pergolakan ekonomi dan politik panjang. Kendati demikian, akankah Uni Eropa bubar?
Banyu memprediksi hal tersebut bisa saja terjadi. Mengingat, Inggris merupakan negara dengan ekonomi terbesar setelah Jerman di Eropa.
Meski tidak menyebut jangka waktunya, tapi Brexit akan menjadi pil pahit untuk mengobati penyakit demi terwujudnya mimpi kesatuan politik Uni Eropa yang kokoh.
Bagi Inggris sendiri, jika Brexit benar-benar terjadi secara ekonomi para pakar memperkirakan bahwa akan ada masa ketidakpastian paling tidak untuk dua tahun selagi Inggris menegosiasikan perjanjian barunya dengan Uni Eropa.