Berdamai dengan Alam di Daerah Rawan Gempa

Ilustrasi berdoa.
Sumber :
  • REUTERS/Beawiharta

VIVA.co.id – Indonesia negeri rawan bencana. Sejak lama kalimat itu tersemat untuk negara berpenduduk ratusan juta jiwa ini.

img_title Pemerintah Minta Masyarakat Tak Termakan Isu Tsunami Buntut Erupsi Anak Krakatau

Sebab itu, mahfum kemudian Badan Dunia untuk Strategi Internasional Pengurangan Risiko Bencana (UNISDR) menasbihkan Indonesia sebagai negara paling rawan dengan risiko dan dampak bencana alam.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Maklum, mulai dari enam jenis bencana yang dicatat UNISDR, yakni tsunami, tanah longsor, banjir, gempa bumi, angin topan, dan kekeringan.

img_title Badan Geologi: Pertumbuhan Anak Krakatau Pasca 2018 Relatif Kecil

Indonesia meraih posisi pertama pada dua bencana alam yakni tsunami dan tanah longsor dan peringkat ketiga dunia untuk kejadian gempa bumi. Lalu, peringkat enam untuk bencana banjir. Hanya kekeringan dan angin topan saja Indonesia tak mendapat peringkat.

tsunami Aceh 2004

img_title Badan Geologi Ungkap Potensi Bahaya di Balik Erupsi Berulang Anak Krakatau

FOTO: Dampak bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Aceh pada akhir tahun 2004. Tsunami menjadi bencana dengan peringat pertama di Indonesia menurut PBB

Ya, negara ini sudah rawan bencana sejak lahir. Dasarnya, seperti yang pernah disampaikan peneliti gempa Indonesia Danny Hilman, ada dua hal yakni faktor alam dan nonalam.

Faktor alam, yakni posisi Indonesia yang berdiri di atas lempeng gempa. Lalu, melimpahnya gunung api dan pengaruh iklim tropis yang melahirkan curah hujan yang tinggi.

"Untuk nonalam, negeri kita berpenduduk padat, tata ruang tak ramah bencana, infrastruktur kita tidak didesain sesuai alam dan kebijakan kebencanaan yang terlambat. Jadi, dalam menghadapi bencana, meski semenjak dahulu kala sudah terjadi, kita sangat telat," kata Danny.

148 Juta Orang Terancam
Pekan pertama di pengujung tahun 2016, sebuah gempa darat meratakan sejumlah bangunan di Kabupaten Pidie Jaya Aceh. Gempa dengan kekuatan 6,5 skala Richter (SR) ini menewaskan sedikitnya 102 orang dan menghancurkan ratusan rumah warga.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kejadian ini cukup mengejutkan. Meski Aceh diakui terbilang daerah yang memang kerap menjadi langganan gempa. Namun, gempa darat kali ini ternyata cukup banyak memakan korban jiwa dan terasa hingga ke Kabupaten Bireun dan Pidi.

Menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho, terdapat sejumlah faktor yang membuat gempa itu cukup banyak memakan korban jiwa.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut