Berdamai dengan Alam di Daerah Rawan Gempa
- REUTERS/Beawiharta
VIVA.co.id – Indonesia negeri rawan bencana. Sejak lama kalimat itu tersemat untuk negara berpenduduk ratusan juta jiwa ini.
Sebab itu, mahfum kemudian Badan Dunia untuk Strategi Internasional Pengurangan Risiko Bencana (UNISDR) menasbihkan Indonesia sebagai negara paling rawan dengan risiko dan dampak bencana alam.
Maklum, mulai dari enam jenis bencana yang dicatat UNISDR, yakni tsunami, tanah longsor, banjir, gempa bumi, angin topan, dan kekeringan.
Indonesia meraih posisi pertama pada dua bencana alam yakni tsunami dan tanah longsor dan peringkat ketiga dunia untuk kejadian gempa bumi. Lalu, peringkat enam untuk bencana banjir. Hanya kekeringan dan angin topan saja Indonesia tak mendapat peringkat.
![]()
FOTO: Dampak bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Aceh pada akhir tahun 2004. Tsunami menjadi bencana dengan peringat pertama di Indonesia menurut PBB
Ya, negara ini sudah rawan bencana sejak lahir. Dasarnya, seperti yang pernah disampaikan peneliti gempa Indonesia Danny Hilman, ada dua hal yakni faktor alam dan nonalam.
Faktor alam, yakni posisi Indonesia yang berdiri di atas lempeng gempa. Lalu, melimpahnya gunung api dan pengaruh iklim tropis yang melahirkan curah hujan yang tinggi.
"Untuk nonalam, negeri kita berpenduduk padat, tata ruang tak ramah bencana, infrastruktur kita tidak didesain sesuai alam dan kebijakan kebencanaan yang terlambat. Jadi, dalam menghadapi bencana, meski semenjak dahulu kala sudah terjadi, kita sangat telat," kata Danny.
148 Juta Orang Terancam
Pekan pertama di pengujung tahun 2016, sebuah gempa darat meratakan sejumlah bangunan di Kabupaten Pidie Jaya Aceh. Gempa dengan kekuatan 6,5 skala Richter (SR) ini menewaskan sedikitnya 102 orang dan menghancurkan ratusan rumah warga.
Kejadian ini cukup mengejutkan. Meski Aceh diakui terbilang daerah yang memang kerap menjadi langganan gempa. Namun, gempa darat kali ini ternyata cukup banyak memakan korban jiwa dan terasa hingga ke Kabupaten Bireun dan Pidi.
Menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho, terdapat sejumlah faktor yang membuat gempa itu cukup banyak memakan korban jiwa.