Teror Ransomware Petya Ancam Indonesia
- www.pixabay.com/typographyimages
Petya generasi terbaru ini juga diklaim lebih ganas karena memiliki dua program enkripsi. Enkripsi pertama bertugas mengubah master boot record atau MRB di sistem operasi Microsoft Windows untuk mendapatkan akses sebagai administrator.
Jika itu berhasil, maka program akan mengatur agar komputer restart dalam waktu yang berbeda-beda di tiap komputer.
Setelah restart, maka program mulai menjalankan enkripsi pada seluruh hard disk yang ada di komputer tersebut. Saat bekerja, program akan menampilkan informasi palsu, yakni berupa program pemeriksaan hard disk (chkdsk).
Jika semua sudah selesai, maka program akan menampilkan informasi bahwa komputer tersebut telah dikunci. Pemilik komputer diminta menyetor sejumlah uang Bitcoin ke rekening pribadi hacker.
Bila program pertama gagal mendapatkan akses administrator, maka program kedua yang akan berjalan. Program ini sebenarnya sama seperti WannaCry, yakni mengunci semua data pribadi yang ada di hard disk secara satu per satu.
Meski sama-sama memanfaatkan celah keamanan EternalBlue seperti WannaCry, NotPetya mampu mengeksploitasi alat jaringan Windows seperti Windows Management Instrumentation (WMI) dan PSExec sehingga seluruh komputer dengan sistem operasi Windows yang diperbarui sekalipun dapat diserang.
"WMI adalah metode gerakan lateral super efektif untuk peretas. Ini sering diizinkan oleh sistem, jadi jarang diblokir oleh alat keamanan. PSExec sedikit lebih terdepresiasi dan lebih dipantau namun tetap saja sangat efektif," kata peneliti keamanan Lesley Carhart.
Dengan bahasa sederhananya, menurut pakar keamanan Kevin Beaumont, serangan ransomware yang satu ini dapat menginfeksi seluruh komputer dalam satu jaringan walau awalnya hanya menyerang satu komputer yang bertindak sebagai administrator.
Yang membuat generasi terbaru dari Petya ini juga lebih 'ganas' yakni terkait dengan uang tebusan. Pembuat Petya memang baru akan melepaskan 'sandera' jika korban mengirimkan bukti transfer ke sebuah alamt surel atau e-mail.
Yang menjadi masalah, alamat e-mail yang digunakan ternyata dikelola oleh sebuah penyedia layanan e-mail, bukan alamat khusus yang dikelola sendiri oleh pembuat Petya. Nah, setelah marak pemberitaan mengenai Petya generasi terbaru itu, penyedia layanan e-mail langsung menutup alamat tersebut, sehingga tidak lagi bisa diakses.