Arifin Ilham

Ustaz Arifin Ilham.
Sumber :
  • satu jam lebih dekat-tvOne

VIVA.co.id –  Ustaz Muhammad Arifin Ilham punya khas tersendiri dalam berdakwah. Suara dan tema yang disampaikannya menggetarkan jiwa dan menenangkan hati. Suaranya serak-serak basah dan bertenaga menyentakkan semua orang yang mendengarnya.

img_title Fakta Soal Selingkuhan Virgoun sampai Permintaan Ibu Almarhum Ustaz Arifin Ilham

Kalimat tauhid, takbir, tahmid bagian dari zikir yang merupakan tema-tema yang dibawakan Arifin Ilham.  Setiap ia menyampaikan persoalan apapun, ia tak jauh mengingatkan akan zikir kepada Allah dengan lantunan kalimat-kalimat baik tersebut.   

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ustaz Arifin Ilham lahir di Banjarmasin 8 Juni 1969. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara dan menjadi satu-satunya anak laki-laki dari pasangan Ismail Marzuki-Nurhayati. Ayahnya merupakan keturunan ketujuh dari Syeh Al-Banjar, seorang ulama besar di tanah Kalimantan. Arifin memiliki dua istri; Wahyuniati Al-Waly dan Rania Bawazier.

img_title Yuni, Ibunda Alvin Faiz Dikabarkan Menikah Lagi

Sejak kecil, Arifin dikenal sebagai anak nakal. Bahkan, ia pernah kecebur di sungai. Beruntung, dalam laman pribadinya, ibunya berhasil menolongnya. Bahkan saat SD pun predikat nakal dan pemalas masih bertengger di dirinya hingga baru bisa baca tulis huruf latin waktu kelas 3 SD. Ia sekolah di SD Muhammadiyah. Namun sayang, ia harus pindah sekolah karena berkelahi sampai bonyok dengan temannya. Akhirnya Arifin melanjutkan sekolahnya di SD Rajawali.

Saat menginjak masa SMP pun kenakalannya justru bertambah. Ia terpengaruh berbagai macam kenakalan remaja seperti merokok, berjudi dengan kelereng, mencuri uang ayahnya. Bahkan ia pernah mengancam  akan membakar rumahnya gara-gara minta dibelikan motor trail tidak dipenuhi ayahnya.

img_title Ustaz Arifin Ilham Inspirasi Wujudkan Kota Zikir di Aceh

Hingga tiba saatnya orang tuanya pergi haji pada tahun 1982. Pikirannya mulai tidak tenang dan mencoba membenahi diri. Betapa terkejut kedua orang tuanya saat mereka kembali dari tanah suci melihat perubahan sikap anaknya yang drastis. Arifin minta dimasukan ke pesantren. Padahal ia baru kelas 1 SMP.

Pada tahun 1983, ia pun dimasukkan ke Pesantren Darunnajah Ulujami, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Di sini ia hanya  sampai kelas dua aliyah. Pada 1987, ia meneruskan kelas dua aliyah hingga kelas 3 di Pesantren Assyafi’iyah di Bali Matraman, Tebet, Jakarta Selatan. Sejak di pesantren, ia sudah berceramah. Baik ceramah di kampung halamannya maupun di Jakarta dan sekitarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut