I Love You, Ayah
- U-Report
Kami pun tak akan meninggalkanmu jika kau mau sedikit saja menyadarkan kami bahwa kau pun bisa melemah entah karena apa. Ayah, kau terlalu angkuh. Ingin terlihat sempurna untuk kami, tapi kau justru menyakiti kami. Ayah, terlalu rendahkah untuk menjadi lemah di depan kami? Kami anak-anakmu, darahmu ada dalam tubuh kami dan bukan berarti kelemahanmu tak ada pada kami. Kami tak akan menjatuhkanmu ketika lemah. Kami ingin bisa mengangkatmu ketika lemah. Bukankah itu yang namanya "Keluarga"?
Ayah, kau yang tanamkan semua nilai pada kami, jauh sebelum kami mengenal apa itu arti norma yang sesungguhnya. Kau mengajarkan kami untuk tidak takut. Tapi kini, justru kaulah yang "takut" untuk menunjukkan kelemahanmu. Menunjukkan sisi terlemahmu pada kami. Ayah, aku membencimu karena kau terlalu ingin terlihat kuat di depan kami. Tanpa kau sadari itu membuatmu terlihat seperti pembuat onar yang melukai siapapun tanpa kau sadari.
Keangkuhanmu membuat kami banyak terluka. Apakah kau tak bisa meminta maaf untuk ini? Dan mulailah menunjukkan pada kami kalau kau juga manusia yang mampu merasakan sakit. Ayah, aku tetap menyayangimu dan sedih ketika kau terluka. Ingin membahagiakanmu. Tapi kau terlalu angkuh untuk menerima semua rasa tulusku.
Ayah, mengertilah, kami bukan penonton yang hanya ingin melihat kehebatan lakon di atas panggung. Kami bagian darimu. Kami adalah darahmu. Sebagian dari nafasmu. Walau kami bukanlah dirimu ayah. Tapi kami berhak untuk tahu kesakitanmu agar kami mampu berdoa pada Tuhan agar menggantikan sakit yang kau rasa untuk menjadi sakit kami.
Ayah, kau masih ada di dalam setiap bait doaku. Walau terkadang ada rasa enggan mendoakanmu karena rasa kecewa yang terkadang masih terasa sakit. Ayah, bagaimanapun rasa benciku ini tumbuh dan menyiksa. Satu hal yang mampu kupastikan untukmu ayah. I Love You, Ayah. (Tulisan ini dikirim oleh Galuh, Jakarta)