Hanya Aku dan Alam
- U-Report
Sering kali aku berkelahi dengan matahari. Ia seolah-olah tersenyum setiap hari. Ia bersama awan yang tiap pagi menyeretku ke tanah lapang. Aku berteriak, menantang sang surya. “Mengapa engkau tersenyum? Apakah esok kau akan tertawa? Enyahlah kau, biarkan rembulan yang menjadi teman. Tidakkah kau mengerti ini semua? Tidak ada yang lucu dari kehilangan sesuatu yang dicinta.”
Tuhan, mengapa Engkau merebut kedua orangtuaku? Tuhan, mengapa aku tak pernah sanggup melewati ini semua? Jika cermin selalu memantulkan kejujuran, berarti inilah aku, terlihat kumuh! Tak pantas bila dikatakan rapih sedikit pun. Barusan, hujan deras di awal berhenti dan menyisakan pelangi. Kembali mengingatkan aku untuk kembali. Kembali menjadi yang dulu, melupakan yang berlalu. Aku harus kuat dan bangkit. Aku harus kuat melawan siksaan sakit.
Hujan deras ini mengajarkan banyak hal. Yang terpenting, aku sudah lepas. Lepas mengartikan sesuatu yang bebas. Kini, “bebas” itu mau bersamaku dengan satu syarat, kembali menjadi sosok yang ceria, tak kenal menyerah, dan menghapus semua ucapan keluh. Aku ingin terbang di tengah hujan, aku hanya ingin mencoba seberapa kuat aku menghadapi badai. Sehingga, ketika badai lain menyusul aku tidak akan jatuh.
Ayah, ibu, akan aku lewati semua badai di depan. Ini kan yang kalian mau? Bertahan dan terus berjalan, tak lagi menengok ke arah belakang. Yang sudah lalu biarlah tersapu. Aku tahu kalian adalah suatu anugerah yang datang. Terimakasih atas semua ajaran. Kini, aku bersama alam, bulan, bintang, matahari, awan, langit, dan Tuhan. Bersama mereka aku tak mengenal kepedihan.
Layaknya pagi tadi, ketika pelangi muncul setelah hujan deras. Aku telah melewati hujan deras di hidupku. Kini, giliran pelangi mengambil kemudi. Jika esok adalah sebuah rahasia, maka langkah hari ini, pagi ini, yang kau ambil adalah caramu untuk menerka. (Tulisan ini dikirim oleh Alexander)