Terlunta-lunta di Jalan Gara-gara Bus
- http://bismania.org
Hari Sabtu malam, saya sudah janjian sama tetangga saya, namanya Uli. Kita mau jalan-jalan ke mall yang letaknya kebetulan memang dekat dari rumah. Jam sudah menunjukkan jam 7 malam dan saat kita sedang jalan kaki, tiba-tiba saya kepikiran mengajak Uli buat tur malam naik bus. saya kira si Uli bakalan nolak, tapi ternyata dia malah mengiyakan ajakkan saya.
Menunggu sekitar 15 menit, akhirnya ada juga satu bus yang lewat. Busnya sepi dan kita memilih duduk di depan. Biar kalau ada orang yang mau ngebajak bus, saya bisa langsung loncat ke luar. Jalanan begitu lengang, dan karena saking sepinya di dalam bus, saya sampai merasa seperti pemilik bus.
Semuanya baik-baik saja, sampai kita tiba di terminal terakhir. Dan di sinilah musibah itu terjadi. Setahu saya yang namanya terminal itu pasti penuh bus kan? Tapi kok sekarang sepi banget ya? Untuk menjawab pertanyaan itu, saya bertanya pada tukang gorpis alias goreng pisang yang ada di deket situ. "Bang, kok enggak ada bus lagi?" tanya saya. "Oh, tadi bus yang kamu naiki itu yang terakhir. Kalau jam 8 mah sudah gak ada lagi" Dan di saat ini saya enggak tahu harus berbuat apa.
Kalau tidak ada bus lagi, bagaimana saya bisa pulang? Jarak dari Terminal Cibereum ke Terminal Cicaheum tuh jauh banget. Anehnya si Uli masih cool-cool aja walau saya tahu mungkin dia sudah ngompol dari tadi gara-gara takut tidak bisa pulang.
Oke, langkah yang paling benar adalah dengan berjalan kaki dulu. Sambil berharap ketemu tetangga yang mau nganterin pulang atau ketemu sopir taksi yang mau kasih tumpangan gratis gara-gara melihat muka kita berdua yang memelas. Jam sudah menunjukkan setengah sepuluh malam, dan yang saya takuti cuma satu yaitu bagaimana kalau kita ketemu copet atau begal di jalan.
Saya terus berjalan bersama Uli sambil berharap ada bus lewat. Dan saat sedang berjalan, saya melihat ada bus Damri kosong yang melintas. Begitu melihatnya, saya langsung berlari mengejar bus itu sambil teriak-teriak. Tapi kejamnya, bus sama sekali tidak berhenti. Dia terus pergi, meninggalkan saya di sini. Terpuruk dalam kedinginan. Oh, malangnya.