Kisah Seorang Istri tentang Suaminya Pecandu Ganja
- U-Report
Aku menolak maka sebuah alasan harus terurai seketika. Dan aku mengucapkan itu di depan orang tuaku, “Aku mengandung anaknya!” Ia yang kumaksud adalah pria yang sangat kucintai dan kuingin menjadi suamiku. Rapat keluarga seketika digelar. Mataku berkunang-kunang. Jelas aku telah membuat kesalahan paling fatal. Namun kedua orang tuaku tidak mengisyaratkan apa-apa. Mereka mencari solusi bagaimana supaya ia, pria yang kucintai itu, mau menikahiku yang sebenarnya telah berbohong.
Akhirnya aku menikah. Seadanya. Sebagaimana mestinya wanita yang telah tak perawan dianggap orang. Wanita yang telah mempermalukan keluarga karena hamil di luar nikah. Pria itu pun terhuyung-huyung datang ke rumah malam itu, mengucapkan janji suci pernikahan. Seminggu berlalu biasa saja. Sebulan setelah itu kami mulai berdebat soal dirinya yang malas bangun pagi. Bulan berikutnya kudapati ia merokok cukup banyak di kamar padahal aku telah mengandung, yang sebenarnya.
Bulan setelah itu, saat aku ngidam ingin ini dan itu matanya menyalak. Tak karuan ia melempar asbak atau piring ke pangkuanku. Tabiatnya mulai terlihat. Manjanya mulai kurasa. Ia sama sekali tak terbebani dengan sebuah rumah tangga. Ia tak pernah malu dengan kedua orang tuaku karena selalu bangun kesiangan. Ia tak pernah peduli urusan dapur mengepul atau sawah siap panen atau mesti ditanam lagi. Ia hanya tahu selembar kertas untuk membeli bungkus rokok lalu keluyuran di pos ronda bersama pemuda lain.
Kehamilanku semakin membesar. Ia yang tak betah, pulang ke rumah orang tuanya. Iklan susu ibu hamil di televisi empat belas inci hanya sebagai hiburan yang kuidam-idamkan tiap kali. Buah apel yang digigit di layar kaca seakan-akan membuatku menjadi bagian dari gigi itu. Minuman aneka rasa yang selalu tampil di televisi cukup kutahu nama produknya saja. Ia tak akan membeli, bahkan tak pulang sebulan penuh sampai menjelang masa melahirkan.
Seminggu sebelum proses persalinan ia pulang dengan bau badan tak sedap. Wajah tampannya yang selalu kuimpikan tak sebaik manusia yang pernah kulihat. Wajah itu adalah aura yang paling jijik kulihat sejak kukenali dirinya. Bau badan yang tak biasa membuatku mulai curiga. Kecurigaanku menjadi nyata saat ia berbicara ngawur, tak jelas penempatan abjad demi abjad. Ia mabuk! Bukan karena alkohol. Bukan karena narkoba. Hanya karena ganja yang begitu mudah didapatkan di negeri kami.